“SALING KENAL”: Renungan, Minggu 30 April 2023

0
1335

HARI MINGGU PASKAH IV (P)

Kis. 2:14a,36-41; Mzm. 23:1-3a,3b—4,5,6; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10

 Pada tahun 2019 dirilis sebuah filim dengan judul “Haciko: A Dog’s Story”. Film ini menceritakan seekor anjing bernama Haciko yang tiba di Amerika setelah dikirim dari Jepang. Anak anjing itu lepas karena kandangnya terbuka hingga seorang dosen bernama Parker Wilson menemukannya. Karena suka dengan anjing, Wilson langsung membawanya ke rumah. Hingga bertahun berlalu, hubungan Wilson dan anjing bernama Haciko tersebut menjadi semakin dekat. Setiap Wilson berangkat kerja, Haciko selalu mengikutinya ke stasiun kereta api dan tidak pergi sebelum majikannya tersebut pulang. Hingga suatu hari, Wilson harus menemui ajalnya sebelum kembali ke stasiun tempat dimana Haciko selalu menunggu kedatanganya. Haciko tetap menunggu kedatangannya. Akhirnya, Michael menantu Wilson menjemput Haciko. Michael telah menjelaskan bahwa tuannya telah meninggal, namun anjing itu tidak mengerti dan tetap menunggu Wilson.

“Akulah pintu ke domba-domba”. Yesus menegaskan bahwa Ia adalah pintu kepada domba-domba dan siapa yang masuk tidak masuk melaluiNya tidak akan pernah bisa menuntun keluar domba-dombaNya. Pencuri dan perampok yang masuk ke dalam kadang tanpa melalui pintu tidak akan pernah berhasil menuntun domba keluar dari kandang. Sebab gembala dan domba-dombaNya saling mengenal suara dan nama. Hanya mereka yang masuk melalui pintu yang dapat menuntun para domba untuk keluar. Gembala memanggil domba-dombanya sendiri dengan namanya masing-masing. Dalam konteks daerah Palestina, dari dulu sampai sekarang, ada suatu kebiasaan dimana para Gembala memberi nama kepada masing-masing domba.

Kisah Injil menggambarkan suatu hubungan yang akrab dan unik antara Yesus dan orang-orang Yang percaya kepadaNya. Yesus sebagai Gembala Agung pasti mengenal suara para pengikut yang percaya kepadaNya. Pengakuan diri sebagai murid atau pengikut Kristus mewajibkan setiap orang untuk mengenal Kristus secara penuh dan total. Pengenalan itu tidak hanya berhenti pada suatu pengakuan: “saya adalah murid Yesus” atau “saya adalah pengikut Yesus”. Pengenalan yang benar nampak dalan suatu hubungan yang akrab dan unik antara “saya” dan Yesus. Hubungan yang akrab dan unik itu hanya mungkin ketika kita mampu hidup dalam persekutuan penuh bersamaNya. Bersekutu bersamaNya berarti hidup menurut perintah dan teladan hidupNya, tinggal tetap bersamaNya dan menjadikanNya sebagai awal dan tujuan hidup kita. Kita pasti bisa!!!

(Fr. Theofilus Pontoh)

“…, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu” (Yoh. 10:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk mengenalmu dengan benar. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini