Hari Rabu dalam Pekan Suci (U)
Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21-22,31,33-34; Mat. 26:14-25
Dewasa ini, kata berkhianat sering ditemukan atau dijumpai dalam sebuah relasi antar seorang pribadi laki-laki dan perempuan, entah dalam masa pacarana ataupun bagi mereka yang telah membangun sebuah keluarga. Dalam konteks itu, berkhinat dapat dipahami sebagai situasi dimana salah satu (seorang) dalam relasi itu tidak setia, melakukan tipu daya dan perbuatan yang ingkar janji. Berkhianat selau berkonotasi negatif dalam pengertian dan maknanya. Sebisa mungkin orang berusaha untuk menghindari tindakan berkhianat dalam seluruh praktek kehidupan.
Hari ini penginjil Matius menceritakan kisah tentang Yudas Iskariot yang Menghianati Yesus. Penghiatan yang sungguh-sungguh kejam yang dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya. Yudas yang adalah murid Yesus memilih untuk menghianati Yesus dari pada melindungi Yesus. Ia tergoda dengan uang sebesar tiga puluh perak. Dengan uang itu, ia menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala untuk dihukum mati.
Yesus sendiri sudah mengetahui bahwa Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala oleh salah seorang muridNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”. Ketika Yudas menjawab bahwa bukan dia yang menyerahkan Yesus, maka jawab Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya”. Hal ini dengan jelas mengatakan bahwa Yesus tahu apa yang akan dialamiNya dan siapa yang akan menyerahkanNya.
Yesus mengatakan: “Anak manusia memang akan pergi sesuai yang tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”. Hal ini dengan jelas mau menunjukkan bahwa Yesus datang sebagai penyelamat bagi seluruh umat manusia. Karena pada dasarnya, Yesus datang untuk melaksanakan tugas dari Bapa yang telah mengutusNya.
Sebagai anak-anak Allah, kita diajak untuk bermenung atau berefleksi sambil mengingat-ingat kembali apakah selama ini kita sering menyakiti hati Yesus dengan menghianati Dia? Apakah kita sering terperangkap dalam kuasa kegelapan dan berusaha untuk menduakan Yesus? Ingat bahwa Yesus mengetahui maksud hati dan perilaku kita, jadi berusahalah untuk tidak menghianati Dia. Janganlah kita berlaku seperti Yudas yang menghianati Yesus. Sebab jikalau kita menghianati Yesus adalah lebih baik jika kita tidak dilahirkan.
(Fr. Edward Adelbert Mere)
“Anak manusia memang akan pergi sesuai yang tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mat 26:24).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, berkatilah kami selalu agar kami tidak menghianatiMu. Amin











