“DIALAH PENYELAMAT KITA”: Renungan, Senin 03 April 2023

0
1247

Hari Senin dalam Pekan Suci (U)

Yes. 42:1-7; Mzm. 27:1,2,3,13-14; Yoh. 12:1-11

Manusia adalah makhluk hidup yang pada dasarnya selalu mengharapkan agar dirinya selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Namun manusia juga mempunyai keterbatasan dalam mencapai hal tersebut. Hari ini kita diingatkan tentang keterbatasan diri kita sebagai ciptaan. Kita diciptakan sebagai “pekerja-pekerja” Allah yang terbatas dan lemah. Kelemahan yang kita miliki membuat kita harus berusaha untuk mencapai keselamatan. Meskipun demikian kita tidak dibiarkan terus-menerus hidup dalam kelemahan. Allah mengharapkan agar kita dapat melawan kelemahan  diri kita. Dan Allah pun turut membantu kita untuk dapat selamat. Allah tahu bahwa kita lemah sehingga Ia mengutus Yesus Kristus sebagai penyelamat.

Nabi Yesaya dalam nubuatnya menggambarkan Yesus sebagai Mesias. Ia akan datang untuk menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dan menanggung kelemahan kita yang sering membiarkan diri dikuasai oleh dosa. Allah menghendaki agar kita semua selamat. Namun kita perlu sadar diri dan jangan hanya berdiam diri dalam kelemahan yang selalu mengarahkan pada kebinasaan. Kita perlu berlaku rendah diri dan selalu mengandalkan Tuhan. Karena cinta Tuhan kepada kita tidak pernah hilang meskipun kita sering jatuh dalam dosa. Cinta Tuhan kepada kita diungkapkan dalam injil hari ini. Ia rela menderita demi cintaNya bagi kita.

CintaNya yang besar kepada manusia dapat kita pahami dalam perkataanNya: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu.” Perkataan Yesus ini mau mengungkapkan kepada kita bahwa Ia akan menanggung segala kelamahan dan dosa kita sampai wafat di salib. Ia membiarkan diriNya sebagai hamba yang menderita demi kita manusia yang lemah. Kelemahan dan dosa kita ditanggung olehNya. Sikap Yesus sebagai hamba perlu menjadi teladan hidup kita. Kita perlu sadar bahwa kita hanyalah hamba. Kita harus bertindak seperti Maria yang diungkapkan dalam Injil. Sadar bahwa kita hanya hamba yang diselamatkan oleh Allah.

Dalam pekan suci ini kita diajak untuk merenungkan kasih Allah bagi kita orang yang lemah ini. Kita jangan seperti Yudas yang hanya memikirkan kerajaan dunia yang dapat binasa. Melainkan kita perlu “ber-metanoia” ke jalan yang benar, jalan yang dikehendaki oleh Tuhan.

(Fr. Willem Landa)

“Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh. 12:5)

Marilah Berdoa:

Ya Allah, kami hanyalah manusia lemah dan berdosa. Kami mohon ampunilah kami orang berdosa ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini