Kamis Putih (P)
Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15
Malam Kamis Putih yang kita rayakan pada malam hari ini mengenangkan dua hal pokok yakni peristiwa pembasuhan kaki para rasul dan peristiwa perjamuan Yesus bersama murid-muridNya. Berdasarkan kesaksian Yohanes dan Paulus, kedua peristiwa ini berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Yohanes mengatakan “sebelum hari raya Paskah mulai” dan Paulus menyebut “pada malam ia diserahkan”. Kalau Yesus diserahkan dan akhirnya disalibkan pada hari Jumat, berarti peristiwa itu terjadi pada hari Kamis malam, sebagaimana saat ini kita mengenangkannya.
Tindakan mengenangkan itu bukan sekedar mengingat tetapi menghadirkan kembali peristiwa tersebut sehingga kita merasakan serta mengalami kembali makna dari peristiwa itu. Maka, kalau malam hari ini kita mengenangkan peristiwa Yesus yang membasuh kaki para murid dan mengadakan perjamuan bersama mereka, tentunya kita diajak untuk mengambil makna dan buah dari kedua peristiwa itu.
Pertama, Yesus membasuh kaki para murid. Dalam tradisi Yahudi waktu itu, orang biasa membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan sebagai ungkapan mau ikut pesta dengan bersih. Pembasuhan ini tidak dilakukan sebelum perjamuan tetapi pada saat perjamuan berlangsung. Dan yang membasuh bukan pelayan tetapi justru sang tuan rumah, yaitu Yesus. Maksud pembasuhan bukan sekedar untuk pembersihan diri tetapi supaya para murid yang dibasuh oleh Yesus mendapat bagian dalam diri Yesus. “Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikian sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir”. KasihNya yang begitu besar mendorong Yesus mau berbagi asal dan tujuan hidupNya dengan cara membasuh kaki para murid.
Kedua, peristiwa perjamuan Yesus bersama murid-murid-Nya sebagaimana dijelaskan oleh Rasul Paulus. Dalam perjamuan tersebut, Yesus menyerahkan tubuh dan darahNya bagi para murid. Dan penyerahan ini akan menjadi nyata, sebagaimana Yesus sungguh-sungguh menyerahkan tubuhNya dan menumpahkan darahNya di kayu salib. Pada saat perjamuan tersebut, Yesus juga berpesan, “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku”. Maka, sejak saat itu, para murid selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa sesuai dengan pesan Yesus. Dengan demikian, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mengenangkan Kristus sesuai dengan pesanNya. Kita tidak sekedar mengingat, tetapi kita sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dalam rupa roti dan anggur.
Peristiwa perjamuan Yesus mengajak kita untuk semakin tekun dan setia merayakan Ekaristi. Peristiwa pembasuhan kaki mengajak kita untuk meneladan Yesus, yakni saling mengasihi dan menolong satu dengan yang lain. Yesus mengajak kita untuk dapat hidup dalam kasihNya agar semua orang dapat merasakan hal yang sama seperti yang telah dialami oleh para murid.
(P. Bayu Nuyartanto, Pr)
“Kata Simon Petrus kepadaNya: Tuhan, jangan hanya kakuku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” (Yoh.13:9)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, semoga lewat perayaan ini kami semakin mencintai Ekaristi dan selalu berjaga bersama Yesus dalam setiap peristiwa hidup kami. Amin.











