Hari Biasa Pekan 1 Prapaskah
Yeh. 18:21-26; Mzm. 130:2, 3-4ab, 4c-6, 7-8; Mat. 5:20-26.
Yesus menantang kita untuk melihat kehidupan kita pada inti terdalam diri kita. Kita harus memerangi kejahatan sampai keakar-akarnya, sebelum hal itu muncul ke permukaan sebagai kejahatan. Kita harus bisa mengalahkan rasa marah yang menjadi cikal bakal dari kehancuran, kita harus bisa mengatur sendiri tata damai di hati dan berdamai dengan sesama sebelum kita mempersembahkan kurban, atau sebelum damai itu dipaksakan dari luar oleh otoritas yang berwenang.
Injil hari ini mengingatkan kita bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita. “Everything you do comes back to you” artinya setiap perbuatan sejatinya akan kembali kepada kita. Demikianlah jika kita berkata yang baik, maka perkataan baik itu akan kembali pada kita. Sebaliknya, jika kita berkata yang tidak baik, maka ketidakbaikanlah yang akan menghampiri kita. Jadi, berpikirlah dahulu sebelum berkata-kata: berhentilah mengucapkan perkataan yang sia-sia, ubahlah kutuk menjadi berkat. Sebab apa yang kita ucapkan itulah yang akan terjadi atas hidup kita. Dalam khotbahNya di bukit, Yesus menasihati kita supaya tidak dengan mudah mengucap kata ‘kafir, jahil,’ kepada orang lain. Itu sama artinya dengan mengatakan diri sendiri. Marah saja sudah menjadi bagian dari pelanggaran yang berat, apalagi tindakan membunuh yang lain.
Kita pun diajak untuk belajar menjadi pembawa damai bagi orang-orang di sekitar kita. Jika kita percaya hidup kita diberkati, sudah semestinya kata dan tindakan kita selalu menimbulkan dimensi damai. Damai itu diwujudkan dengan sikap berani dan terbuka untuk saling mengampuni. Orang yang mampu bersyukur dapat sampai pada pengalaman mengampuni serta mengasihi orang lain tanpa batas. Tuhan menghendaki agar hidup keagamaan kita tidak dimotivasi dengan nafsu ego yang kemudian mengabaikan yang lain. Karena itu, bangunlah kualitas spiritual kita dengan cinta kasih, tidak karena perasaan takut atau terpaksa, apalagi oleh dorongan-dorongan tertentu yang membuat kita sama seperti kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Perbuatlah semuanya itu sejalan dengan apa yang diperintahkan Kristus, yakni: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
(Redaksi)
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat. 5:20)
Marilah Berdoa:
Ya Allah, bantulah kami agar hidup kami bisa berguna dan membawa kebahagiaan bagi siapa saja. Amin.











