“KESABARAN BERBUAH KEBAIKAN”: Renungan, Jumat 10 Maret 2023

0
1469

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)

Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46.

Saudara terkasih, sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dipraktekkan. Ada begitu banyak ajaran yang mengajarkan tentang kesabaran, namun dalam prakteknya masih sangat sulit. Hidup kita sering dikuasai oleh amarah, iri hati dan dendam. Jika amarah, iri hati dan dendam menguasai diri kita maka akan berdampak buruk bagi sesama kita.

Bacaan pertama menceritakan tentang Yusuf dan saudara-saudaranya. Di katakan di sana bahwa Israel ayah mereka sangat mengasihi Yusuf. Alasan itulah yang membuat Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya hingga akhirnya Yusuf dijual kepada rombongan yang dalam perjalanan ke Mesir. Bacaan Injil pun menceritakan hal yang serupa yakni tentang penggarap-penggarap kebun anggur yang memiliki ego untuk memiliki kebun anggur tuannya. Karena keegoisan mereka itu maka mereka tiba pada praktek pembunuhan kepada utusan-utusan pemilik kebun anggur bahkan anak pemilik kebun anggur itu. Kebencian yang sudah menempel dalam diri membuat mereka memiliki niat yang buruk untuk segera menyingkirkan Yusuf dan utusan-utusan serta anak pemilik kebun anggur.

Dari dua cerita di atas, maka ada lima hal penting yang harus kita refleksikan bersama. Pertama, Keegoisan pribadi yang menghancurkan karena membuat kita tidak melakukan tanggung jawab yang diberikan. Tanggung jawab ini mengarah pada diri sendiri, sesama, dan kepada Tuhan. Itu berarti bahwa hidup kita jangan didasarkan pada ego pribadi karena akan runtuh dan lenyap. Kedua, Kebencian yang berdampak pada hal-hal negatif. Kebencian akan memampukan orang untuk menyakiti dan bahkan berani membunuh orang lain, apalagi orang-orang yang terlihat penting. Ketiga, sabar dan sadar. Artinya bahwa perlu adanya kesadaran bahwa itu milik saya dan itu bukan milik saya. Sadar akan apa yang kita miliki. Dengan sadar akan kepunyaan kita, kita diajak untuk bersikap sabar. Artinya bahwa tetap sabar dan setia dalam tugas dan tanggung jawab kita. Biarlah Allah yang memberikan berkat untuk kita.  Keempat, ialah pertobatan. Dari segala kejahatan yang telah kita buat, maka kita harus bertobat, meminta ampun, membenah diri dan menjadi manusia baru. Dan kelima, yakni Pertobatan. Orang yang bertobat adalah orang yang mengarahkan dirinya pada Allah dan akan memperoleh keselamatan yakni hidup kekal bersama Allah.

(Fr. Markus Ngilawan)

“Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan” (Mat. 21:43)

Marilah Berdoa:

Tuhan yang Mahabaik, mampukanlah kami untuk selalu bertanggung jawab atas diri kami, sesama kami dan terlebih khusus kepadaMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini