Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).
Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4b-5b,6-7c,8-9; Mat. 18:21-35.
Kasih menjadi hukum tertinggi yang dibawa Yesus ke dalam dunia. Kasih menjadi tolak ukur setiap karya yang Yesus lakukan selama 33 tahun hidupNya di dunia. Bahkan kasihlah yang menyebabkan Allah berkehendak untuk menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Kasih yang sudah Allah tunjukkan bagi kita manusia perlu manusia praktekan pula dalam kehidupan sehari-hari
Bacaan Injil hari ini hendak mengajarkan kepada kita tentang tindakan kasih bagi sesama. Belas kasih seperti apakah yang hendak kita lakukan? Yesus dalam injil mengajarkan kita untuk mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali. Ini merupakan Numerical Parallelism artinya bahwa ketika orang melakukan kesalahan akan selalu kita ampuni atau dengan kata lain mengampuni tanpa batas. Mengapa kita harus terus mengampuni orang yang selalu menyakiti kita? Karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Cinta Allah itu tiada batas. Ia selalu dan senantiasa mengasihi kita sehingga bukan soal berapa kali kita mengampuni sesama.
Kasih Allah dan kasih manusia tidaklah sama. Kasih Allah jauh lebih besar dan jauh lebih agung dari pada kasih yang bisa ditunjukkan oleh manusia dalam hidupnya. Meski demikian manusia tetap belajar untuk bisa mengasihi sebaik yang bisa mereka lakukan sesuai dengan yang telah Yesus ajarkan. Manusia yang melakukan tindakan kasih itu merepresentasikan kasih Allah yang sudah lebih dahulu mengasihi manusia itu sendiri serta mengambil bagian dalam kasih Allah yang sungguh sempurna.
Bagaimana kita menerapkan kasih Allah itu dalam hidup kita sebagai orang beriman? Tiga hal yang bisa menjadi tempat saluran kasih kita sebagai orang beriman yakni Kasih kepada Tuhan, sesama dan juga diri sendiri. Namun kasih tidak sampai di situ, karena kasih juga memiliki cakupan yang sangat luas, termasuk alam dan makhluk sekitar. Setelah tahu ke mana kasih itu ditujukan, kita juga perlu bertindak dengan spirit atau semangat kasih sesuai dengan yang Yesus ajarkan yakni kasih yang bersumber dari Allah sendiri. Untuk bisa mempraktekkan kasih dari Allah itu maka kita juga harus dekat dengan Dia dalam doa. Semakin seseorang jauh dari Allah maka semakin sulit pula ia mengasihi. Sudahkah kita berdoa dan mengasihi?
(Redaksi)
“Janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihMu demi Abraham, kekasihMu, demi Ishak, hambaMu dan Israel, orang tersuciMu” (Dan. 3:35).
Marilah Berdoa:
Tuhan mampukanlah kami untuk setia dalam doa dan mengasihi, Amin.











