”DITOLAK DALAM PEWARTAAN”: Renungan, Senin 13 Maret 2023

0
1574

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).

2Raj. 5:1-15a; Mzm. 43:3-4; Luk 4:24-30

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan adanya penghargaan dan penerimaan dari orang lain. Penghargaan yang diberikan itu lalu dapat membuat seseorang merasa dirinya diterima oleh orang lain. Namun dalam kehidupan nyata, masih ada orang-orang yang suka menilai hanya berdasarkan apa yang tampak dari luar. Karenanya tak heran bila ada orang yang terjerumus pada penilaian semu semata, misalnya berdasarkan status atau latar belakang orang yang dinilai.

Kitab Raja-raja mengisahkan Naaman yang disembuhkan dari penyakit kustanya. Naaman adalah panglima raja Aram yang terpandang namun menderita sakit kusta. Setelah berjumpa dengan Elisa, hamba Allah dan melakukan segala perkataannya, Naaman pun mengalami kesembuhan. Iman dan ketaatan tersebut membuat Naaman sadar dan percaya bahwa Allah adalah sumber kesembuhan

Bacaan Injil mengisahkan  ketegaran hati dari orang Nazaret. Mereka menolak Yesus dari kampung halamannya dan tidak menerima Yesus sebagai Mesias. Kisah penolakan dari orang-orang Nazaret kepada Yesus memberikan keterangan bahwa “sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya (Luk 4:24). Mengapa mereka menolak Yesus  di tempat asalnya? Pertanyaan ini memunculkan pemahaman bahwa orang-orang Nazaret hanya melihat latar belakang dari kehidupan Yesus. Sehingga ketika Yesus ada di hadapan mereka dan mulai mengajar, mereka semua heran akan kata-kata indah yang diucapkan Yesus hingga mucul pertanyaan tentang identitas keluarganya. Inilah yang menjadi masalah kalau orang hanya melihat latar belakang kehidupan dan tidak melihat perbuatan yang dikerjakan.

Dalam masa Prapaskah ini kita belajar untuk menilai orang lain bukan dari luar dirinya. Apa yang dikatakan oleh orang lain itu merupakan urusan mereka. Kita sebagai orang percaya harus menjalani hidup bukan berdasarkan apa yang orang lain katakan melainkan didasarkan pada apa yang disabdakan dan dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Segala ketetapan dalam masa Prapasakah seperti berpantang dan berpuasa menjadi sarana bagi kita untuk mengukuhkan iman kita akan Tuhan. Dengan iman yang kuat dan hati yang sudah disucikan maka pewartaan akan kerajaan Allah akan nampak dalam setiap tindakan dan tutur kata kita. Karena itu, jadilah pewarta yang memberikan kesaksian lewat hidup dan mengajarkan dengan teladan hidup layaknya Yesus sendiri.

(Fr. Frantosius Kadoang)

“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat Asalnya” (Luk 4:24)

Marilah Berdoa:

Ya Allah, mampukanlah aku untuk melihat perbuatanMu melalui orang-orang yang ada di sekitarku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini