“Undangan Berbuat Baik”: Renungan, Minggu, 5 Februari 2023

0
1590

Hari Minggu Biasa V (H).

Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16

Kita tahu bersama bahwa garam dipakai pada masakan agar makanan yang dimasak mempunyai rasa yang enak. Selain itu juga garam dapat dipakai untuk mengawetkan makanan, agar makanan tidak cepat rusak. Takaran garam yang pas akan membuat makanan menjadi enak dan siapapun yang mencicipi makanan itu bisa merasakan juga rasa enak pada makanan yang sudah dimasak. Akan tetapi, jika makanan yang dimasak tidak dicampuri garam, maka makanan yang dimasak sudah pasti menjadi hambar.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengatakan Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia. Yesus mengatakan demikian bukan berarti para muridNya harus diasinkan menjadi garam. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Garam yang hambar dan tak berguna akan diinjak-injak orang. Yang dimaksudkan Yesus adalah bila para murid kehilangan identitasnya. Murid yang tak bisa ikut membuat dunia ini makin awet dan enak didiami dengan sendirinya tidak menyumbang banyak.

Sabda Yesus tidak hanya bagi murid-muridNya melainkan juga berlaku demikian kepada kita umatNya. Yesus mengumpamakan kita sebagai garam dunia. Maksudnya apa Yesus memakai garam dan terang dunia untuk mengumpamakan hidup kita. Sebagaimana garam dan terang itu berguna bagi hidup manusia. Demikian juga hidup kita diajak untuk berguna bagi orang lain. Kita tahu bahwa garam itu bisa berguna bagi masakan sedangkan terang bisa dipakai untuk menerangi kegelapan. Sabda Yesus mengingatkan kita bahwa kita senantiasa diundang untuk menjadi berguna bagi orang lain, bukan sekedar berguna bagi diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa berguna bagi orang lain? Tentu kita berguna bagi orang lain kalau seluruh hidup kita diwarnai dengan kebaikan; pikiran, perkataan dan lebih dari itu perbuatan kita. Di jaman ini kata-kata itu sangat berarti. Kalau kita punya kebiasaan yang buruk seperti perkataan yang buruk, itu dampaknya juga buruk bagi orang lain. Demikian juga dengan tindakan-tindakan kita. Jadi undangan menjadi garam dan terang adalah undangan untuk berguna bagi orang lain. Kiranya hari demi hari kita dapat meningkatkan diri agar semakin berguna bagi orang lain, dan semoga karena kebaikan kita, banyak orang terinspirasi untuk berbuat baik.

Fr. Michael A. R. Tumundo

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat. 5:16).

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikan kami garam dan terang dunia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini