“Kebencian dibalas dengan Kebaikan”: Renungan, Minggu, 19 Februari 2023

0
1622

Hari Minggu Biasa VII (H).

Im. 19:1-2, 17-18; Mzm. 103:1-2, 3-4, 8, 10, 12-13; 1Kor. 3:16-23; Mat. 5:38-48.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia, diminta untuk berlaku sebagai orang beriman dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan martabatnya sebagai ciptaan Allah. Tapi harus diakui bahwa kadangkala, manusia tidak berlaku secara demikian, bahkan justru manusia merusak martabatnya sebagai ciptaan mulia Allah dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan sesamanya dan di hadapan Allah sendiri. Dalam Injil hari ini, konteksnya yakni kotbah Yesus di atas bukit. Apa yang menjadi pewartaan Yesus dalam kotbahNya dimaksudkan agar pengikutNya memiliki referensi atau acuan dalam melakukan sesuatu. Kotbah di bukit menjadi pedoman dan aturan bagi orang-orang yang mengimani Yesus.

Kecenderungan hidup dan perilaku manusia dimana-mana, kadangkala suka membalas kejahatan dengan kejahatan. Tak banyak yang mampu membalas kejahatan dengan kebaikan dan kemurahan hati. Di situlah terdapat titik lemah manusia punya kecenderungan bertindak mata ganti mata, gigi ganti gigi. Suka dan sering sekali membalas kejahatan dengan kejahatan, sehingga hidup itu menjadi lagi tidak indah. Karena itu Tuhan Yesus dalam kotbahnya memberi petunjuk sekaligus perintah yang harus dilakukan oleh manusia. Ini yang harus kamu lakukan “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Intinya, jangan balas kejahatan dengan kejahatan, tetapi tunjukkan bahwa orang beriman berbeda karena adalah manusia sorgawi yang sudah diselamatkan. Sebab kalau tidak demikian, apa bedanya dengan manusia berdosa, itulah juga yang ditegaskan oleh Tuhan.

Dalam kehidupan harian bersama dengan orang lain, tidak mudah memang kita harus berbaik dengan mereka yang selalu memusuhi kita, dan tidak segampang itu kita berlaku baik kepada orang-orang yang membenci kita. Tetapi itulah ajaran Tuhan yang harus kita praktekkan, apabila kita mau disebut sebagai orang-orang beriman, putera-puteri terkasih Tuhan. Sebab manusia duniawi selalu penuh dengan kebencian terhadap orang-orang yang membenci, sehingga hidup itu makin tak mengampuni. Kebencian dibalas dengan kebencian, kejahatan dibalas dengan kejahatan sehingga keburukan jadi tak berujung. Karena itu Tuhan menetapkan standar tinggi bagi hidup pengikut-pengikutNya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah untuk mereka yang menganiaya kamu”. Sebab kebencian tidak akan pernah hilang apabila dibalas dengan kebencian, tetapi kejahatan bisa dikalahkan dengan kebaikan.

Marilah dalam hidup kita, seberat apapun situasinya kita akan berusaha menjadi pengikut Tuhan yang setia untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi selalu berusaha berbuat baik, bermurah hati kepada siapapun yang kita jumpai setiap hari.

(RD.Melky Malingkas)

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. (Mat. 5:39)

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah kebijaksanaan hidup kepada kami agar selalu mengasihi dan mencintai setiap orang yang kami jumpai setiap hari. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini