“Menolong Sesama”: Renungan, Kamis 12 Januari 2023

0
1348

Hari Biasa (H)

BcE Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; Mrk. 1:40-45

Pada umumnya mereka yang sakit mencari kesembuhan sesuai dengan kemampuan finansial yang mereka miliki dengan keyakinan bahwa ketika datang ke rumah sakit dan melalui bantuan dokter atau siapa saja dapat menyembuhkan penyakit mereka. Hari ini penginjil Markus mengisahkan bahwa Yesus kedatangan seorang yang sakit kusta. Orang itu datang memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Dengan harapan dan iman yang besar Yesus pun menyembuhkan penyakitnya. Dengan perkataan “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”, orang sakit itu memperoleh kesembuhan berkat kuasa Yesus.

Dalam Injil Markus dikisahkan bahwa Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia menjamah orang kusta itu dan menjadi sembuh. Pada zaman Yesus seseorang yang mengidap penyakit kusta harus dikucilkan, dijauhi, juga tidak ada kontak fisik dengannya sebab penyakit kusta adalah penyakit menular, berbahaya, dan tidak dapat disembuhkan. Sebenarnya Yesus dapat menyembuhkan orang ini tanpa bersentuhan dengannya, akan tetapi dengan menunjukan bahwa Ia berkuasa, Ia pun berkontak fisik dengan orang kusta itu. Hal ini menunjukan ungkapan belas kasih yang mendalam dari-Nya. Meskipun sudah dilarang agar tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang Yesus akan tetapi perintah ini dilanggar. Mungkin baginya dengan memberitakan kepada banyak orang nama Yesus semakin dikenal, akan tetapi secara tidak langsung Ia menghambat pelayanan Yesus sendiri untuk menyembuhkan banyak orang. Karena itu, Yesus tidak lagi masuk ke kota secara terang-terangan dan Ia harus tinggal di tempat-tempat yang sepi.

Dari perjumpaan si kusta dengan Yesus ini, kita belajar bahwa dalam hidup ini tentu tidak berjalan semulus apa yang kita harapkan. Dengan melihat bahwa berbagai macam hal yang kita alami, baik itu permasalahan dan pergumulan yang kita hadapai. Yesus sebagai satu-satunya dokter Ilahi yang mampu menyembuhkan segala penyakit kita serta menyelesaikan segala permasalahan yang kita alami asalakan kita mau datang kepadanya dengan rendah hati dan percaya seperti orang kusta ini. Di situlah belas kasih dan kerahiman Allah dicurahkan kepada kita. Belajar dari Yesus yang mau menjamah orang kusta, kita di harapkan sebagai pengikut Kristus peka dan mampu memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar kita yang mungkin membutuhkan bantuan, pertolongan dan perhatiaan serta doa-doa kita. Dengan bantuan yang kita berikan, mereka juga mendapat sentuhan melalui belas kasih dari Allah sendiri.

(Fr. Ongen Lury)

“Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Mrk 1:40).

Marilah berdoa:

Tuhan, bukalah mata hati kami untuk menolong sesama kami yang berkesusahan. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini