Hari biasa (H)
BcE Ibr. 12: 4-7,11-15; Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a; Mrk. 6:1-6.
Mengalami suatu pengalaman penolakan dalam hidup merupakan suatu hal yang kurang menyenangkan. Terlebih mengalami suatu penolakan dari orang-orang yang sangat dekat dengan kita, membuat kita merasa sangat sedih atau bahkan merasa putus asa dalam menjalani kehidupan. Hal yang sama juga dialami oleh Yesus dalam Injil hari ini. Ketika Yesus mengajar orang-orang yang ada di Nazaret, mereka merasa heran dan takjub akan hal-hal besar yang dilakukan oleh Yesus. Namun, semua rasa takjub ini berubah menjadi suatu penolakan karena mereka mengenal latar belakang Yesus sendiri sebagai anak dari seorang tukang kayu yang bernama Yusuf dan Maria yang selalu ada bersama-sama dengan mereka. Hal ini mau menunjukkan bahwa orang-orang pada saat itu tidak percaya akan Yesus. Mereka hanya melihat latar belakang keluarga Yesus yang sederhana, biasa-biasa dan tidak memiliki keistimewaan.
Dalam hidup, pengalaman seperti ini sering juga kita alami. Pengalaman ditolak sering terjadi karena latar belakang keluarga kita dan juga keadaan lingkungan di mana kita tinggal. Hal ini mau menunjukkan bahwa jabatan atau kedudukan membuat orang dengan sangat mudah diterima walaupun itu di tempat asalnya sendiri. Namun lewat bacaan Injil hari ini, kita semua diajak untuk membuka hati dan pikiran kita untuk mampu melihat setiap pribadi yang hadir atau kita jumpai dalam hidup ini. Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilan lahiriah atau yang tampak saja, ataupun melihat status sosialnya saja. Hal ini hendak menunjukkan bahwa tindakan seperti ini merupakan suatu perbuatan yang sangat tidak bijaksana, jika kita hanya melihat atau menilai orang dari tampilan luarnya atau status atau jabatan yang dimilikinya.
Dalam Injil, Tuhan mengajak kita untuk mampu menerima setiap orang dengan hati yang terbuka dan membuang semua hal yang kita nilai buruk dari orang tersebut. Kita diajak untuk menerima tanpa memandang siapa dia, dari keluarga siapa dia ataupun dari mana asalnya, melainkan kita harus menerima dia karena kita percaya akan kebaikan yang ada pada dirinya. Penolakan yang Yesus alami juga mengajak kita untuk tidak membenci orang apalagi menaruh dendam kepadanya. Sebaliknya Tuhan mengajak kita untuk menerima semua penolakan yang ada dengan hati terbuka dan dengan lapang dada. Hal ini memang sangat sulit untuk kita lakukan, tetapi Tuhan mengajak kita untuk selalu percaya kepada-Nya dan selalu mengandalkan Dia dalam kehidupan kita, agar kita dapat selalu mewartakan kasih-Nya kepada semua orang.
Fr. Silvianus F. Bentalen
Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”(Luk. 6:4)
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah kami untuk selalu mampu untuk mengasihi orang-orang yang membenci dan menolak kami. Amin.











