Hari biasa (H)
BcE Ibr. 4:1-5,11; Mzm. 78:3,4bc, 6c-7,8; Mrk. 2:1-12
Kesetiakawanan adalah perasaan seseorang yang bersumber dari rasa cinta kepada kehidupan bersama atau sesama kawan sehingga diwujudkan dengan amal nyata berupa pengorbanan dan kesediaan menjaga, membela, membantu, maupun saling melindungi dalam kehidupan bersama. Saling mengasihi, saling melayani, saling menopang adalah sikap yang diperlukan untuk memperkuat sebuah persekutuan atau komunitas. Dalam hal ini, bisa dilihat komunitas yang kita tempati saat ini. Sebuah komunitas, sekalipun memiliki program kerja yang bagus, tapi jika para anggotanya tidak punya kesatuan hati, tidak hidup rukun, berjalan sendiri-sendiri, tidak ada kerjasama, bersikap egois, tidak punya kepedulian satu sama lain, niscaya tujuannya tidak akan pernah tercapai.
Dalam bacaan Injil hari ini, dapat dilihat bersama satu kisah di mana terdapat seorang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus. Yang menarik di sini yakni perjuangan dari orang-orang yang membawa si lumpuh tersebut untuk menemui Yesus. Ketika mendengar Tuhan Yesus datang ke Kapernaum, banyak orang berdatangan ingin bertemu Dia dengan berbagai tujuan: ingin mendengarkan ajaran-Nya, ingin melihat dan mengalami mujizat dan sebagainya. Tak terkecuali empat orang yang menggotong orang yang menderita karena kelumpuhan yang ia alami. Karena tempat itu penuh sesak, mereka tidak bisa membawa si lumpuh itu secara langsung kepada Tuhan Yesus. Namun mereka tidak kehilangan akal dan menyerah begitu saja. Mereka membawa si lumpuh tersebut melalui atap dan mengantarnya kepada Yesus. Yesus pun melihat kegigihan iman mereka dan itulah yang menggerakkan hati-Nya untuk bertindak. Akhirnya mujizat pun dinyatakan-Nya, di mana orang lumpuh itu menjadi sembuh sehingga bisa berjalan lagi.
Dari kisah ini kita bisa belajar tentang apa arti sebuah pelayanan yang sesungguhnya. Yang mendasari keempat orang rela melakukan sesuatu yang baik bagi si lumpuh adalah kasih. Sesungguhnya tidak terlalu sulit bagi mereka untuk menggotong, namun dibutuhkan kerjasama dan kekompakkan untuk menurunkan si lumpuh dari atap ke ruangan di mana Yesus berada. Jika tidak kompak dan tidak berhati-hati, resikonya sangatlah besar. Lebih penting lagi mereka melakukan semuanya itu dengan ikhlas. Maka dari itu, baiklah kita mencontohi kekompakkan mereka dan menerapkannya dalam kehidupan berkomunitas maupun dalam suatu persekutuan agar segala tujuan yang telah ditetapkan, bisa terlaksana dan tercapai.
(Fr. Luciano Lontaan)
“…. Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mrk. 2:5)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, terimakasih atas kasih-Mu kepada kami yang mengharapkan kesembuhan dari pada-Mu. Amin.











