Hari raya Penampakan Tuhan
Yes. 60: 1-6; Ef. 3: 2-3b. 5-6; Mat.2: 1-12
Karl Barth, seorang teolog dari Gereja evangelis, menunjuk perbedaan tegas antara religiusitas dan iman (Agama dan Wahyu). Religiusitas menunjuk semangat dan usaha manusia untuk mencari dan mencapai keselamatan, usaha dari manusia untuk menjumpai Allah. Sedangkan iman adalah tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia, Allah yang mencari dan menjumpai manusia. Allah mewahyukan diri sebagai Penyelamat manusia melalui Sabda dan tindakan-Nya. Allah sendirilah yang berinisiatif membuka kemungkinan bagi manusia untuk dapat menjumpai Allah.
Hari ini Gereja merayayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Penampakan Tuhan dalam bahasa Yunani disebut Theofania (penampakan Allah atau wajah Allah) dan disebut juga sebagai Pesta Cahaya (Ton Foton). Perayaan ini menunjuk kebenaran diri Yesus Kristus sebagai kehadiran Allah yang menerangi hidup umat manusia. Dialah Terang sesungguhnya telah hadir di dunia. Dalam Gereja Ortodoks peristiwa ini dirayakan sebagai Hari Raya besar ketiga setelah Paskah dan Pentakosta dan dikenal juga sebagai Pesta Tiga Raja. Sementara di Gereja Latin dikenal dan dirayakan sebagai hari Kunjungan tiga orang Majus pada bayi Yesus yang mereka sebut Raja Orang Yahudi yang baru lahir.
Gereja Ortodoks menghubungkan Hari Raya ini dengan pernyataan identitas Yesus sebagai Mesias dan sebagai pribadi kedua dalam Allah Tritunggal, pada saat pembaptisan-Nya oleh Yohanes di sungai Yordan. Pembaptisan Yesus dihubungkan dengan penampakan Tuhan karena Pembatisan menjadi saat Allah Tritunggal menampakkan diri secara serentak kepada manusia pada saat itu. Kesempatan lain penampakan tiga pribadi ilahi secara serentak adalah saat Transfigurasi di puncak gunung yang tinggi.
Perayaan hari ini ditandai kisah para majus yang mencari raja yang baru lahir. Kisah orang-orang majus menjadi ibarat perjalanan hidup manusia untuk mencari, menemukan dan mengenal Allah sebagai kesemalamatan manusia. Semua orang dari setiap suku, bahasa, kaum dan bangsa, dalam hidupnya, berjalan sebagai peziarah yang mencari dan merindukan keselamatan dan kebahagiaan. Benarlah bahwa semua agama mengajarkan jalan menuju keselamatan. Namun keselamatan yang utuh dan purna tidak pernah menjadi capaian semata dari manusia melalui usahanya mengamalkan ajaran agama. Tidak ada manusia yang dapat menjadi penyelamat bagi dirinya sendiri.
Perayaan hari ini dan kisah orang majus merupakan prototipe tentang perjalanan kita menuju Kristus. Semua orang di mana saja, apapun sukunya, agamanya, laki-laki atau perempuan, semestinya menjadi teman seperjalanan untuk menemukan dan mengenal Allah. Allah yang nampak dalam segalanya dan yang merangkul segalanya dalam Dia. Kisah dan kunjungan orang-orang majus membuka mata kita terhadap kenyataan, bahwa Tuhan tidak membatasi agama tertentu, suku tertentu untuk mencari dan menemukan Dia. Siapa saja yang mencari Dia dengan hati yang tulus pasti akan dituntun untuk menemukan Dia dan masuk ke dalam perjumpaan dan persekutuan hidup dengan Tuhan.
Sebagai sesama peziarah, manusia dipanggil, seperti para majus, untuk meneruskan perjalanan dengan semangat dan iklim saling membantu. Bertanya dan mencari jawaban, menanggapi pertanyaan sesama dan memberi jawaban. Bukan untuk menguji apalagi mengejek sesama yang mencari kebenaran mengenai hubungan manusia dengan Allah. Perjalan ziarah para majus menunjukkan bahwa dalam perjalanan mencari Raja Yang baru lahir, mereka tidak hanya tergantung pada bintang. Dalam ketidak jelasan, sesampainya di Yerusalem, mereka bertanya kepada pemimpin wilayah setempat yang memiliki konsultan yakni para ahli Kitab Suci. Mereka melakukan hal ini supaya pencarian akan Sang Raja semakin meyakinkan. Para imam kepala dan ahli kitab tahu bagaimana dan dimana Mesias akan datang, dan mereka dapat memberi informasi tepat tentang kebenaran itu.
Pengalaman mereka serentak menjadi juga koreksi pada kenyataan bahwa seringkai hal mengetahui Kitab Kuci sebagai keahlian atau pekerjaan belum menjadi usaha untuk mencari dan menemukan Kristus. Keahlian dan karir ilmiah sering justru membuat manusia kehilangan Kristus, seperti dialami oleh para ahli kitab dan para imam kepala. Mereka tidak dapat mengenali Dia, walaupun Dia sudah datang. Seperti Herodes, mereka tidak mampu menemukan Dia, karena usaha mereka untuk mencari Yesus tidak dengan hati yang tulus. Kedatangan-Nya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan pikirkan, bahkan menjadi ancaman bagi kenyamanan posisi mereka.
Selain para penguasa dan ilmuan, manusia perlu memiliki tutunan para bintang atau teladang dan mengikuti kemana bintang itu memimpin kita, walaupun terangnya sering agak redup. Syukurlah melalui perayaan hari ini, sebagai orang beriman, kita sungguh terberkati karena Allah mewahyukan diri dalam Kristus. Dialah bintang cemerlang di jalan ziarah hidup manusia menuju kepada perjumpaan dan kesatuan hidup dengan Allah. Ia bukan hanya ahli agama atau penguasa wilayah, tetapi bintang yang bersinar di horizon hidup manusia. Penampakan-Nya, sesungguhnya, merupakan penampakan Allah sendiri. Orang-orang majus mampu mengenal dan berjumpa dengan Allah dalam diri seorang anak kecil. Pengenalan ini mereka tunjukkan dalam hadiah yang mereka persembahkan kepada-Nya. Semoga seluruh perjalanan hidup kita menjadi hadiah indah bagi Allah kita yang dapat kita persembahkan ketika hidup ini mencapai puncaknya dalam perjumpaan dengan Allah sendiri.
P. Julius Salettia
“Karena berita Injil, orang-orang yang bukan Yahudi turut menjadi ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef. 3: 6).
Doa: Ya Yesus yang baik tuntunlah kami di jalan-Mu agar kami sampai kepada tujuan hidup yang dikehendaki Allah untuk kami. Amin! (J. Salettia).











