“Berpaut Pada Allah, Bukan Pada Dunia”: Renungan, Minggu 29 Januari 2023

0
1397

Hari Minggu Biasa IV (H)

BcE Zef. 2:3; 3:12-13; Mzm. 146:1,7,8-9a,9bc-10; 1Kor. 1:26-31; Mat. 5:1-12a.

Dari masa ke masa, manusia selalu berusaha untuk bekerja demi membangun suatu kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Ada berbagai macam cara yang dilakukan dan juga banyak waktu yang dikorbankan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Pastinya ketika manusia bekerja keras, ia tidak mau mengalami kesulitan dan ada tuntutan hidup yang harus dipenuhi. Benar bahwa hal ini perlu dilakukan oleh setiap orang, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang ingin mengalami kesulitan.

Dunia selalu menawarkan kebahagiaan dengan kekayaan materi bagi setiap orang, bagi siapa yang berusaha maka dia akan mendapatkan. Akan tetapi sebagai orang beriman, perlu kita sadari bahwa kebahagiaan secara materi ini belum benar-benar dinyatakan sebagai suatu kebahagiaan yang sejati karena bersifat duniawi. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa kebahagiaan sejati justru ada pada orang-orang yang miskin. Orang-orang inilah yang empunya kerajaan surga dan berbahagia karena miskin di hadapan Allah. Arti miskin dalam hal ini bukan hanya soal materi saja, akan tetapi juga keberadaan diri, yang secara sadar dan rendah hati, mengakui keterbatasan dan kekurangannya. Adanya keterbatasan ini, sesuai apa yang diserukan oleh nubuat Zefanya dalam bacaan pertama, bahwa manusia perlu mencari Tuhan, mencari keadilan dan kerendahan hati untuk memperoleh keselamatan agar menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tetap sadar atas kenyataan diri yang tak mampu hidup tanpa belas kasih Allah adalah tindakan tepat. Entah dalam keadaan seperti apapun, saat dalam kelebihan juga dalam keadaan kekurangan. Allah yang menjadi sumber bagi segalanya, kehidupan, kekuatan dan kesejahteraan. Jangan sampai kekuatan dan kelebihan yang kita punya menjadi benteng pemisah hubungan kita dengan Allah. Kita perlu belajar atas perkataan Rasul Paulus kepada umat di Korintus bahwa ketika kamu dipanggil: tidak banyak orang yang bijak, yang berpengaruh dan terpandang. Melainkan orang yang bodoh, yang lemah bagi dunia dipilih Allah untuk membuat malu apa yang kuat supaya tidak ada yang memegahkan diri di hadapan Allah. Artinya bahwa kemegahan, kesombongan dan kekuatan duniawi sama sekali tidak penting di hadapan Allah, melainkan bagi mereka yang sadar akan kebesaran Allah dan mau bersatu dengan-Nya, memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya yakni keselamatan. Meraih kesuksesan boleh-boleh saja, asal kita tidak lupa kepada Allah sebagai sumber kesuksesan tersebut.

(Fr. Relly Ndana)

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” (Mat.5:3).

Marilah Berdoa:

Bapa, bantulah kami untuk lupa diri saat kami senang atau mengutuk engkau Dikau di saat kami susah. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini