“Be Your Self”: Renungan, Rabu 18 Januari 2023

0
1304

Hari Biasa (H)

BcE Ib, 7:1-3,15-17; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk, 3:1-6

Salah satu kecenderungan manusia dewasa ini adalah selalu berusaha tampil baik di depan semua orang, entah dalam keadaan apapun, manusia selalu berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya. Bukan hal yang buruk memang jika manusia hidup seperti demikian, akan tetapi kecenderungan tersebut kebanyakan bukan muncul dari kesadaran ataupun kehendak pribadi. Melainkan pertama-tama didasarkan pada usaha untuk menghindar dari “omongan tetangga”.  Kebanyakan manusia  berusaha untuk  terlepas dari penilaian buruk sesamanya, sehingga banyak dari mereka yang berjuang agar hidup sesuai dengan harapan dan penilaian orang lain. Akibatnya mereka mulai kehilangan identitasnya dan terus berupaya untuk memenuhi ekpektasi orang lain.

Hari ini, Yesus Kristus dalam Injil-Nya berusaha menunjukkan kepada kita tentang pentingnya tampil apa adanya. Dalam Injil dikisahkan bahwa ketika pada hari Sabat Yesus masuk ke rumah Ibadah, Ia terus diawasi dan diamat-amati oleh orang-orang Farisi kalau-kalau Yesus menyembuhkan seorang  yang mati sebelah tangannya. Sebab mereka berusaha untuk mencari letak kesalahan-Nya. Mengetahui akan kefasikan orang Farisi itu, Yesus bukannya takut ataupun gemetar. Ia malah menunjukkannya secara nyata dengan meminta orang sakit tersebut untuk berdiri di tengah-tengah lalu menyembuhkannya. Yesus tahu betul akan kapasitas diri-Nya sebagai Mesias Putera Tunggal Allah. Oleh karena itu, Ia tidak takut akan ancaman ataupun bahaya. Yesus juga tidak takut apabila dianggap bersalah ketika menyembuhkan orang sakit di hari Sabat. Sebab Ia memiliki keyakinan akan hal baik dan benar di hadapan Allah. Bukan saja tentang keyakinan melainkan pula pengetahuan akan yang baik dan yang benar itu. Itulah mengapa, Ia tidak pernah takut dan cemas bila melaksanakannya walaupun selalu diancam dan juga ditolak.

Yesus tidak pernah berusaha tampil baik dan benar di hadapan orang hanya demi untuk disenangi dan dipuji. Ia tidak gila hormat dan tidak pernah berusaha untuk memenuhi ekspektasi dari semua orang. Yesus tidak pernah menghiraukan ocehan dan ”omongan para tetangga”. Sebab yang benar bagi-Nya adalah menaati perintah Allah dan melaksanakannya. Terkadang kita terlalu menghiraukan penilain orang lain sehingga selalu berupaya untuk memenuhi ekpektasi mereka. Tanpa kita sadari, hal tersebut malah menghilangkan identitas diri kita sendiri sebagai makhluk yang bebas tetapi juga bernilai. Semoga dengan merenungkan bacaan ini, kita semakin diteguhkan untuk tampil apa adanya sebagaimana panggilan hidup kita masing-masing.

(Fr. Valen Helyanan)

“……Mari, Berdirilah di tengah” (Mrk. 3:3)

Marilah Berdoa:

 Ya Tuhan, bantulah kami untuk lebih bersyukur dalam hidup ini. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini