“Yesus, Bukti Janji Allah”: Renungan, Rabu 14 Desember 2022

0
1053

Pw S. Yohanes dr Salib, ImPujG (P)

Yes. 45:6b-8, 18, 21b-25; Mzm. 85:9ab-10, 11-12, 13-14; Luk. 7:19-23; atau dr RUybs

Menantikan sesuatu dalam ketidakpastian merupakan sebuah kesia-siaan. Sering kita alami bahwa ada banyak janji yang kita nantikan namun yang terjadi ialah semua itu hanya perkataan yang tidak ada hasilnya. Peristiwa ini membuat kita selalu meragukan hal-hal yang dikatakan oleh orang lain. Apalagi jika ada orang yang sama mengatakan hal-hal yang sama pula dengan pemenuhan janji yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kejadian ini secara definitif membuat kita tidak akan mempercayainya lagi.

Keraguan yang serupa pun pernah dialami oleh Yohanes dalam Injil Lukas 7:19-23. Dikisahkan bahwa Yohanes menyuruh kedua muridnya untuk menemui Yesus dan menanyakan tentang identitas Yesus. Hal ini terjadi oleh karena Yohanes masih meragukan keabsahan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Meskipun Yohanes bertanya demikian melalui para muridnya, namun Yesus menanggapinya dengan baik. “Pergilah dan katakan kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan dengar: Orang buta melihat, orang lumpu berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar gembira”, demikian jawaban Yesus kepada dua murid Yohanes.

Perikop Injil di atas menyadarkan kita bahwa pemenuhan janji ilahi ialah suatu kepastian yang hakiki. Jika janji yang sering kita temui pada kebanyakan orang tidak memuat bukti dan hasil yang nyata, Allah melakukan hal yang sebaliknya dengan menyatakan janji yang ril dan disertai dengan bukti yang membuahkan hasil yang baik. Itu semua dapat terlihat dari orang-orang yang mengalami kesembuhan dan sukacita. Pemenuhan janji yang pasti menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai kita umat manusia sehingga Ia mengutus Yesus sebagai Mesias untuk menyembuhkan dan membawa kabar sukacita kepada banyak orang.

Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya menujukkan bahwa Allah adalah Tuhan dan tidak ada yang lain. Kemahaesaan Allah salah satunya terletak di dalam pemenuhan janjiNya. Manusia tidak akan menemukan suatu pemenuhan janji yang utuh selain dalam hadirat Allah sendiri. Oleh karena itu, setiap orang dipanggil untuk menaruh kepercayaan yang utuh kepada Allah yang transenden. Kepercayaan yang Ia tempatkan ini niscaya akan membawa rahmat yang menyembuhkan dan membawa sukacita bagi dirinya.

(Fr. Markus Ngilawan)

“Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Luk. 7:23).

Marilah berdoa:

Allah Bapa yang penuh kasih, mampukanlah kami untuk selalu percaya akan semua rancangan-Mu dalam hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini