“SUDAHKAH MANUSIA SIAP?” Renungan, Selasa 6 Desember 2022

0
971

Hari Biasa Pekan II Adven (U)

Yes. 40:1-11; Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13; Mat. 18:12-14

Kehidupan manusia di dalam dunia semakin hari semakin berkembang. Keadaan itu merupakan kejelasan arah dan tujuan yang dikehendaki oleh Allah sebagai Pencipta. Dalam kehidupan tentunya terdapat berbagai macam corak relasi yang menghiasi lingkungan dan kontak antar semua ciptaan. Namun, manusia yang bergerak untuk memperjuangkan kehidupannya, jelas memiliki keragaman yang tertanam dalam setiap pribadi. Bertolak dari hal itu, maka muncullah pertanyaan: “Bagaimana manusia dapat bersatu di tengah kemajemukan?”

Yesaya dalam bacaan pertama menyatakan adanya seruan yang menegaskan bahwa manusia seperti rumput yang berkembang dan menjadi sarana bagi karya Allah. Allah memperhatikan kehidupan manusia yang Ia ciptakan agar dapat terarah demi terpenuhinya rencana Allah sebagai penerus misi kehidupan. Dalam bacaan ini, seruan yang ada jelas mengungkapkan adanya kabar baik seperti nyata dalam seruan: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” Kabar yang dikumandangkan ini merupakan keadaan yang baru bagi manusia yang begitu majemuk dalam berbagai bidang kehidupan dan jalan yang baru untuk memandang sama setiap orang dalam karya keselamatan.

Bacaan Injil menceritakan keadaan manusia yang disebut sebagai ‘domba’ (Manusia disebut domba dan Allah disebut Tuan). Kenapa demikian? Dalam konteks tersebut, terlukislah keadaan lingkungan zaman itu. Perumpamaan ini jelas menampilkan dua sisi manusiawi yang nyata dalam relasi kita, sehingga Yesus menegaskan adanya hubungan dengan tugas dari Bapa. Hal itu nampak dalam diri Kristus yang memandang semua orang itu setara, “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Waktu yang terus berjalan merupakan kesempatan bagi kita sebagai manusia untuk memperoleh perlindungan dari Allah. Bacaan hari ini begitu menantang kita sebagai manusia untuk berani bertangung jawab dan mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang terbuka dan menyerukan bahwa Tuhanlah penyelamat yang akan datang. Kendati pun di masa sekarang ini, di antara kita terjadi berbagai bentuk deskriminasi dan pembedaan derajat sosial, ekonomi, budaya dll. Kita semua memiliki tugas yang sama untuk mewujudkan kesatuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.

Untuk itu, marilah kita membangun tekad dalam masa penantian ini, kita berseru-seru dan menampilkan tindakan yang konkrit sebagai buah iman yang nampak. Dengan demikian kita menemukan keterbukaan diri kita untuk menyambut kedatangan Sang Peyelamat dunia. Sudahkah kita siap untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah?

(Fr. Petrus Piterson Kussoy)

“Demikian juga Bapamu yang di Sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat. 18:14 ).

Marilah berdoa:

Allah, dampingilah kami umat-Mu agar kami dapat terbuka dan bertanggung jawab untuk menyambut kedatangan Sang Penyelamat dunia. Amin

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini