“Jalan Pertobatan”: Renungan, Minggu 4 Desember 2022

0
1346

HARI MINGGU ADVEN II (U).

Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17; Rom. 15:4-9; Mat. 3:1-12

Dalam perjalanan kehidupan manusia harus ada pengenalan yang baik dan benar tentang Allah yang menyelamatkan. Pengenalan tersebut menuntut pertobatan dan perbaikan diri dari segala kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Terlebih, kita diminta menunjukkan, manakah buah dari pertobatan itu sendiri. Sebab tidak cukup dengan kata-kata saja, melainkan dengan perbuatan atau tindakan langsung atau nyata, yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua orang.

Bacaan pertama menceritakan tentang ramalan nabi Yesaya. Di mana nabi Yesaya meramalkan kedatangan seorang penyelamat umat manusia yakni Yesus Kristus. Ia akan datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, umat-Nya yang selalu melakukan hal-hal yang pada akhirnya menimbulkan dosa. Dalam bacaan kedua Paulus mengingatkan kita, agar selalu berpegang teguh pada kehendak Yesus Kristus Sang Penyelamat umat manusia sehingga kita tidak mudah terjerumus dalam dosa.

Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun dengan berkata bertobatlah sebab kerajaan Allah sudah dekat. Yohanes Pembaptis menyadari bahwa betapa pentingnya pertobatan. Bahkan, sepertinya pertobatan itu adalah jalan satu-satunya untuk mempersiapkan diri menyambut Sang Juruselamat. Yohanes Pembaptis juga meyakini bahwa pribadi yang akan datang itu adalah Dia yang menghakimi dengan keadilan, yang memiliki kesetiaan dan kebenaran dan juga membangun dunia yang damai sejahtera, suatu dunia yang baru.

Kita pun meyakini hal yang sama dengan Yohanes Pembaptis. Kita yakin bahwa Yesus adalah Sang Juruselamat yang dijanjikan Bapa kepada kita. Maka dari itu melalui masa adven II ini, kita sebagai umat-Nya harus mampu bersedia bertobat seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis di padang gurun. Bahkan kita harus menjadi pewarta, yang mewartakan pertobatan. Namun tidak saja mewartakan pertobatan, tetapi juga kita sendiri harus  melakukan pertobatan itu. Kita sungguh menyadari betapa penting kedatangan Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita, baik dalam rumah, keluarga, maupun dalam komunitas, terlebih dalam hati kita sendiri, maka dengan begitu kita berani untuk bertobat. Sebagai bahan refleksi kita pada masa adven ini yakni: Apa yang dapat kita lakukan sebagai bentuk pertobatan kita?

(Fr. Frantosius Kadoang)

Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang akan datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya(Mat. 3:11).

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukanlah aku untuk melihat jalan kebenaran untuk menuju pada keselamatan yang sejati. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini