“Yesus Menangis”: Renungan, Kamis 17 November 2022

0
1224

Hari Biasa (H)

Why. 5;1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk.19:41-44.

Ada beberapa alasan dalam hidup yang membuat kita menangis. Lantas kita bertanya-tanya mengapa orang menangis? Ada yang menangis dengan alasan bahagia, ada pula yang menangis karena terharu, dan juga ada yang menangis karena sedih. Alasan-alasan inilah yang sering kali membuat orang menangis. Di samping ketiga alasan tersebut ada juga satu alasan lain yang membuat orang menangis, yaitu rasa prihatin. Ini merupakan salah satu bagian penting bagi orang yang memiliki moral. Dalam Injil hari ini Yesus persis ada di posisi ini, yaitu menangis karena prihatin akan corak hidup orang-orang di Yerusalem seperti, ketidakrukunan, ketidakpedulian dan jauh dari kedamaian.

Jika kita membaca keseluruhan perikop bacaan Injil pada hari ini, hal yang akan kita temukan adalah suatu suasana bahwa Yesus sungguh diagungkan di kota ini. Mereka bersorak-sorai bahwa Yesus adalah Raja yang mereka nanti-nantikan.  Yesus tidak terbuai dengan pujian ini  tetapi sedih karena Yerusalem yang adalah kota Shalom (damai) malahan orang yang di dalamnya membuat kota itu jauh dari damai. Kota ini seakan  menutup mata serta sulit sekali mengenal akan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Bahkan pada kenyataannya, seorang nabi penting mati dibunuh dan serentak membawa mereka pada kehancuran. Shalom ternyata tidak menggambarkan realitas kehidupan di dalamnya malah sebaliknya jauh dari damai.

Kita seringkali berada di posisi Yerusalem. Ketika kita dibaptis dan menerima Allah dalam diri kita, apakah kita memahami apa yang perlu untuk damai kita? Allah yang bersemayam dalam diri kita yang merupakan Raja Damai, apakah sejatinya membuat kita damai? Sungguh keterlaluan jika Sang Damai telah hadir dan kita tidak mengalami suatu kedamaian. Saudara sekalian,  pada saat itulah Yesus kembali menangis. Di dunia dewasa ini, apakah kita berniat menghapus air mata Yesus ataukah kita lebih tertarik untuk membuat Yesus terus menangis? Sikap dan tindakan kita lah yang menentukan semuanya. Segala kebaikan yang kita lakukan di dunia ini membuat Yesus kembali tersenyum lebar dan membuat Yesus kembali tertawa.

Bagaimana sikap kita akhir-akhir ini, apakah kita cenderung mengarah pada sikap yang membuat Yesus menangis? Ataukah sikap kita semakin hari membuat Yesus kembali tersenyum? Saudara sekalian, jangan takut untuk berbuat baik. Sebagai orang Katolik kita harus menjadi wadah bagi benih kebaikan agar tumbuh subur dan berbuah baik.

(Fr. Fujio Fransiskus Tawas)

Wahai betapa baiknya jika pada hari ini engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu” (Luk. 19:42).

Marilah berdoa:

Yesus yang baik dan rendah hati, semoga kami semakin menyadari akan kehadiran-Mu yang senantiasa selalu memberikan damai dalam diri kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini