“Siap Sedia”: Renungan, Minggu 27 November 2022

0
1492

Hari Minggu Adven I (U)

Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2, 4-5, 6-7, 8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44.

Hari ini kita memasuki masa Adven yang dalam bahasa Latin disebut adventus, yang berarti kedatangan. Pusat perayaan Adven adalah kedatangan Yesus. Dengan kata lain, Adven adalah masa penantian akan kedatangan Yesus Kristus. Minggu Adven pertama dan kedua diarahkan pada kedatangan Yesus pada akhir zaman dalam kemuliaan dan kejayaan. Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Makanya bacaan-bacaan pada kedua minggu ini bertemakan akhir zaman dan pengadilan.

Matius dalam bacaan Injil hari ini menegaskan bahwa hari Tuhan datang tanpa kita ketahui, maka kita patut bersiapsedia. Kesiapsediaan menjadi kunci untuk menyambut hari Tuhan dengan sukacita. Alasannya, segala hal di dunia ini bisa terjadi begitu saja, tanpa kita sangka. Lantas bagaimana kita bersiapsedia? Kita perlu mengusahakan hidup seturut kehendak Allah dengan menjadi orang yang baik dan benar. Sikap ini perlu dimulai dari diri kita sendiri dengan membangun komitmen serta mengaktualisasikannya dalam hidup sehari-hari.

Berbenah diri dan bertobat menjadi sikap yang patut diupayakan. Berbenah berarti mengubah cara dan gaya hidup yang kurang baik, yang kurang berkenan di hati Allah dengan meneladan sikap yang ditunjukkan oleh Yesus. Bertobat berarti menyesali dan mengakui akan segala kelalaian dan kedosaan yang telah diperbuat dengan maksud meminta pengampunan di hadapan Allah.

Selain itu, kesiapsediaan itu terjawab lewat nubuat Nabi Yesaya bahwa setiap manusia merindukan kedamaian. Kedamaian ini akan terpenuhi pada akhir zaman, di saat Tuhan datang sebagai hakim dunia yang memberikan kedamaian. Kedamaian ini akan terwujud jika manusia mau membenahi cara hidupnya dengan meninggalkan peperangan dan pertikaian sebagai jalan untuk menuju kedamaian hidup bersama. Artinya, kedamaian terwujud jika manusia hidup dalam cinta kasih dan menjauhi segala bentuk perselisihan. Sebab damai itu menyatukan dan perselisihan menceraiberaikan.

Rasul Paulus pun menegaskan hal yang sama bahwa sebagai anak terang kita perlu menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan seperti sikap berpuas diri dan tidak mempedulikan orang lain. Sikap seperti ini membuat kita jauh dari Allah. Padahal kita adalah anak-anak-Nya. Sudah sepantasnya kita bercahaya seperti Bapa untuk menerangi jalan banyak orang sehingga terarah pada jalan kebenaran dan kehidupan.

Bersiapsedialah selalu. Hiduplah dalam damai. Hiduplah sebagai anak terang. Berbenah dan bertobatlah. Sebab hidup bersama dan tinggal dalam Allah adalah indah.

 

(Fr. Ekaristho G. Silap)

 

“Berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”
(Mat. 21:42)

Marilah berdoa:

 Ya Tuhan, bantulah aku supaya dapat berjaga dan bersiap menanti kedatangan-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini