Hari Minggu Biasa XXXII (H)
2 Mak. 7;1-2,9-14; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; 2 Tes. 2:16-3-5; Luk. 20:27-38.
Pemahaman kehidupan sesudah kematian bukanlah sekadar konsep belaka, tetapi merupakan suatu peristiwa riil yang terjadi bagi mereka yang percaya kepada Allah sebagai sumber kehidupan kekal. Demikianlah yang terjadi dalam kitab Kedua Makabe mengenai kisah tujuh orang bersaudara serta ibunya yang disengsarakan oleh karena mereka tidak mau makan daging babi yang haram. Mereka lebih memilih untuk disengsara sampai mati daripada harus melanggar hukum Allah, karena mereka meyakini ada kemuliaan yang akan diperoleh asalkan tidak melanggar perintah Allah.
Ketika hendak disiksa anak yang keempat berkata, “Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami dibangkitkan kembali oleh-Nya. Sedangkan baginda tidak ada kebangkitan dan kehidupan.” Ungkapan ini menjadi bentuk keyakinan iman bagi mereka yang rela menderita demi keselamatan kekal, sekaligus juga menjadi peringatan bagi mereka yang lebih mengutamakan kemuliaan duniawi.
Ungkapan dari anak yang keempat dari tujuh bersaudara itu dinyatakan dengan jelas oleh Yesus dalam Injil Lukas ketika beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan datang dan bertanya hendak mencobai Dia. Mereka berkata kepada Yesus bahwa ada seorang wanita yang kawin secara berturut-turut dengan tujuh orang laki-laki bersaudara tetapi ketujuh saudara itu mati tanpa meninggalkan keturunan bagi dia. Penjelasan mereka ditutup dengan pertanyaan soal siapa yang menjadi suami dari wanita itu pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.
Kepada orang-orang Saduki itu Yesus berkata, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan menjadi anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.” Perkataan dari Yesus ini menggambarkan kehidupan setelah kematian bagi mereka yang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal, sekaligus menjadi teguran keras bagi orang-orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Karena bagi mereka kehidupan yang dijalani oleh manusia hanya akan berakhir di dunia yang fana ini.
Mengakhiri penjelasan-Nya, Yesus berkata kepada mereka, “Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan di sebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mereka yang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal adalah orang-orang pilihan Allah yang akan merasakan kebahagiaan kekal. Itulah mengapa Allah disebut sebagai Allah orang hidup, dan sesungguhnya tidak ada Allah orang mati. Mereka yang tidak setia dengan ketetapan-ketetapan Allah dan tidak percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat kekal tidak akan dibangkitkan untuk memperoleh hidup kekal.
(Fr. Chrisanctus Sadrack)
« Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup » (Luk. 20:38).
Marilah berdoa :
Ya Allah yang Mahakuasa, tuntunlah aku dengan kasih setia-Mu agar aku senantiasa hidup di dalam ketetapan-Mu supaya kelak bisa merasakan kemuliaan-Mu. Amin.











