“Hendaklah Kamu Jujur”: Renungan, Jumat 4 November 2022

0
1122

Pw S. Karolus Borromeus, Usk (P)

Flp. 3:17 – 4:1; Mzm. 122:1-2,3-4a.4b-5; Luk. 16:1-8

Di hari ini bacaan Injil berbicara mengenai perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Bendahara itu dipanggil tuannya karena menghamburkan barang milik tuannya. Tuannya meminta sang bendahara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena ia ingin memecat bendahara yang tidak jujur itu. Mendengar hal itu sang bendahara berpikir bagaimana kehidupannya ke depan. Ia kemudian memanggil satu per satu orang yang berutang pada tuannya lalu membuat surat perjanjian yang baru dengan jumlah yang lebih kecil agar ia memperoleh piutang. Lalu tuannya memuji bendahara yang tidak jujur itu karena perbuatannya yang cerdik.

Perumpamaan ini pertama-tama mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang jujur khususnya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari. Entah profesi kita sebagai guru, pegawai, dsb hal pertama yang mesti kita junjung ialah kejujuran. Kejujuran membuat kita dipercayai orang- orang di sekitar kita. Kejujuran juga membuat kita mudah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dan pekerjaan kita kepada atasan atau orang-orang di sekitar kita. Selain itu yang terutama ialah kejujuran membuat kita dapat mempertanggungjawabkan perbuatan kita di hadapan Allah. Perbuatan bendahara yang tak jujur itu tak layak untuk kita contohkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun di sisi lain ada satu hal penting yang dapat kita pelajari dari bendahara yang tidak jujur. Setelah mengetahui bahwa ia akan dipecat ia mulai berpikir tentang kehidupannya ke depan. Bendahara yang tak jujur itu tidak menyerah begitu saja terhadap situasi yang ia alami. Ia memikirkan bagaimana kehidupannya ke depan. Tak hanya itu, ia berani mengambil tindakannya sendiri. Terlepas dari benar tidaknya tindakan yang dibuat, bendahara ini mengajarkan kita menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Dalam menghadapi berbagai kesulitan ataupun kegagalan, janganlah kita mudah untuk menyerah. Hal penting yang mesti kita pikirkan ialah bagaimana kelangsungan kehidupan ke depannya. Kita mesti berani mengambil tindakan-tindakan yang tentunya baik untuk diri sendiri, baik untuk orang lain (tidak merugikan orang lain), tetapi yang terutama ialah baik di hadapan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari Allah mesti diutamakan di atas segala sesuatu. Seperti bendahara yang dipanggil tuannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kita juga akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita di hadapan Allah.

(Fr. Fransiskus Savsavubun)

Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Luk. 16:8)

Marilah berdoa:

Ya Allah, berkatilah hamba-Mu yang hina ini agar menjadi pribadi yang jujur terhadap diri sendiri, orang lain, dan terutama jujur di hadapan Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini