“Hati Sebagai Hamba”: Renungan, Selasa 8 November 2022

0
2361

Hari Biasa, Pekan Biasa XXXII

Bce Tit. 2:1-8,11-14; Mzm. 37:3-4, 18, 23, 27, 29; Luk. 17:7-10

Kehidupan manusia adalah suatu anugerah berharga yang telah Allah berikan, sebagai bentuk kasih dan cinta-Nya kepada semua orang. Dalam kehidupan, kita diminta untuk menjadi hamba yang selalu setia dan siap sedia kepada kehendak Tuhan. Manusia yang dalam kehidupannya menjalankan segala sesuatu dengan kesadaran hati sebagai seorang hamba, telah memberikan hadiah yang kudus kepada Tuhan.

Kata “hamba” secara manusiawi merupakan kata yang menggambarkan seorang pelayan yang selalu setia kepada tuannya, yang melakukan sesuatu tanpa syarat dan imbalan. Karena yang dilakukan oleh seorang hamba adalah hal yang wajib bagi dirinya, sesuai dengan janji pemberian dirinya. Ketika seseorang disebut sebagai hamba, maka yang diembankan kepadanya ialah kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan dalam melayani tuannya. Hamba yang berada di bawah tuannya, seringkali memiliki hak yang kurang dan terbatas.

Dalam bacaan-bacaan yang diwartakan pada hari ini, kita telah disuguhkan dengan suatu ulasan tentang siapa itu hamba dan bagaimana perannya dalam melayani tuannya. Pada bacaan pertama, Tuhan menegaskan bagaimana manusia harus bersikap dengan bijaksana dalam mendidik setiap orang agar dapat berlaku seturut Firman Tuhan. Kita diminta untuk mampu menjadi pengajar yang ulung, yang senantiasa memiliki hati yang baik, setia, dan bijaksana. Hal itu kemudian secara spesifik ditegaskan dalam perumpamaan tentang kisah antara Tuan dan Hamba dalam bacaan injil.

Penginjil Lukas secara khusus menegaskan tentang peranan seorang hamba secara spesifik dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada tuannya. Diungkapkan di sana bahwa seorang hamba akan selalu siap sedia dalam melaksanakan kewajibannya. Hamba secara hirarki adalah posisi yang paling rendah, namun memiliki peran yang penting dalam suatu kerajaan. Dengan mengambil peran sebagai hamba, kita dituntut untuk selalu setia dalam melaksanakan perintah Allah, tanpa mengedepankan hak kita. Karena dengan mengambil keadaan sebagai hamba, kita akan selalu mendapat perhatian penuh dari tuan kita. Karena tanpa hamba seorang tuan tidak dapat bekerja sendiri.

Menjadi seorang hamba bukan berarti kita menjadikan diri kita rendah secara manusiawi. Melainkan dalam kesadaran, kita menempatkan diri sebagai manusia lemah, tak berdaya, dan yang hanya melakukan kehendak dari tuan kita yaitu Allah Bapa. Mengambil rupa seperti hamba bukan berarti kita adalah orang yang tak bermartabat, yang hanya berlaku seperti pelayan tanpa imbalan. Namun lebih dari itu, kita menempatkan diri dalam kekosongan sebagai hamba, yang akan diisi oleh Tuhan. Maka hendaklah kita memiliki hati sebagai hamba yang selalu patuh dan setia kepada kehendak Tuhan kita Yesus Kristus.

(Fr. Romaldo Fangohoi)

“Kami adalah hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk. 17:10).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah hati kami menyerupai hati seorang hamba. Amin.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini