Hari Biasa (H)
Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9.
Tanaman yang ditanam oleh seorang petani akan subur jika diairi dengan baik, diberi pupuk, tanahnya digemburkan, dan dirawat dengan baik. Namun, tanaman juga harus mampu untuk beradaptasi dan kuat dengan seleksi alam. Tanaman yang baik buahnya dan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan untuk layak panen pasti akan dijual, dimakan dan dijaga dengan selayaknya. Hal yang berbeda terjadi pada tanaman yang rusak karena hama, tidak menghasilkan buah, gagal panen, tidak cukup umur untuk panen, buah yang dihasilkan kecil pasti akan dilenyapkan oleh sang petani. Begitulah juga yang akan terjadi pada manusia jika ia berguna, mau berusaha, punya kemauan untuk berusaha dan tidak diam pasti ia akan menghasilkan hasil panen yang baik dan melimpah. Tetapi jika ia memilih menjadi seorang yang tidak berguna, bebal, tidak mau mendengarkan, dan egois, ia akan menuai hal yang sama seperti tanaman gagal panen yang telah diberi pupuk tapi tidak menghasilkan apa-apa.
Rasul Paulus dalam suratnya mengingatkan dan menasihati umat di Efesus untuk senantiasa mengingat bahwa Kristus telah memberikan mereka anugerah dan karunia menurut ukuran pemberian-Nya. Anugerah itu diberikan kepada setiap orang untuk tugas pelayanan dan pembangunan umat Allah. Anugerah dan karunia itu ialah Roh Kudus yang telah dijanjikan-Nya sebelum Ia naik ke surga. Dengan anugerah itu, diharapkan setiap orang mampu untuk dewasa dalam iman, mencapai pengetahuan yang benar tentang Allah, serta bertumbuh penuh dalam kasih akan Kristus. Dengan demikian, setiap orang menjadi pelayan dengan kadar pekerjaannya masing-masing sebagai anggota dengan Kristus sebagai kepala.
Kristus adalah kepala atas setiap anggota. Kristus memandang bangsa Israel yang adalah pra-lambang Gereja masa yang akan datang sebagai panenan yang menunggu pemanennya. Mereka yang terkadang angkuh dan menganggap diri suci dibandingkan orang lain ditegur Yesus agar bertobat dan tidak mengalami kebinasaan. Mereka menganggap bahwa kedelapan belas orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam lebih berdosa dari pada mereka. Namun, kesombongan mereka ditepis Yesus dengan mengatakan bahwa kesalahan mereka lebih besar daripada kesalahan orang-orang tersebut. Mereka lebih suka diam dalam kesombongan daripada menjadi rendah hati dan bertobat. Begitulah yang terjadi pada setiap orang yang terkadang merasa diri lebih suci daripada orang lain. Mereka suka mengejek bahkan membandingkan ukuran keimanannya dengan orang lain. Namun, ia tidak menyadari betapa ia lebih berdosa daripada orang itu karena kesombongan dan keangkuhannya. Maka, mari belajar untuk mendengarkan Tuhan dan bertobat dengan melakukan hal yang berguna yakni mengusahakan kesatuan, menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang melalui anugerah, karunia, dan kemampuan yang ada dalam diri seperti anggur baik yang dipanen dan dapat digunakan untuk banyak orang.
(Fr. Stanislaus Lerebulan)
“Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3a).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah kami orang yang berguna bagi sesama. Amin.











