“Menghilangkan Ketamakan Diri”: Renungan, Senin 17 Oktober 2022

0
1024

Pw S. Ignasius dr Antiokhia, Usk. Mrt. (M)

Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 12: 13-21.

Kekayaan dan kemiskinan sering dibicarakan dalam Kitab Suci. Di satu pihak ada orang kaya, tetapi dilain pihak ada orang miskin. Yesus tidak melawan dan menentang orang kaya, tetapi mengingatkan, ‘berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun orang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan itu’. Tentu saja untuk dapat hidup secara layak, dibutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Namun, dalam memenuhi kebutuhan dasar, kita tidak boleh terjebak dalam ketamakan. Mengapa? ‘Apa jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah?’ Lawan dari ketamakan adalah ugahari, salah satu keutamaan moral selain kebijaksanaan, keberanian, dan keadilan. Manusia yang baik hendaknya mengendalikan hawa nafsu yang berlebihan akan: harta, kuasa, dan seks. Manusia mendapat celaka dan menjadi rusak justru karena terpenjara dalam materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Jangan mau untuk diperbudak oleh kemewahan, kenikmatan, dan kenyamanan semu dari dunia ini sebab semua itu hanya membawa kepada maut.

Hari ini Tuhan mau menyadarkan kita agar senantiasa mengandalkan diri-Nya dan menjauhi ketamakan. Akan tetapi sebagai pengikut Kristus kita percaya bahwa Tuhan tidak menghendaki bahwa para pengikutnya itu miskin dan menderita, karena kekayaan dan kesejahteraan merupakan berkat dan rahmat Tuhan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Seperti dalam Perjanjian Lama: Tuhan selalu memberikan kemenangan dan kesejahteraan kepada umat-Nya karena iman kepercayaan mereka. Maka sekarang pun kita yakin bahwa Tuhan memberkati kita. Dulu orang mengatakan bahwa kemiskinan dan penderitaan itu tanda keberdosaan, sedangkan kekayaan dan kemakmuran itu berkat Tuhan. Ini merupakan salah satu paradigma yang ada dalam kehidupan kita. Namun pernyataan ini tidaklah benar karena kita tahu bahwa orang yang beriman kepada Tuhan, tidak selalu kaya atau bergelimang harta, tetapi sudah pasti merupakan orang yang percaya dan taat kepada Tuhan serta melaksanakan perintah-Nya: mengasihi sesama dan rela berbagi kepada orang lain.

Hidup tidaklah tergantung dari kekayaan semata. Yesus memberikan perumpamaan seorang kaya yang membangun gudang-gudang besar untuk menimbun kekayaan hingga orang itu puas. Tetapi firman Allah: Hai orang bodoh, malam ini jiwamu akan di ambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya orang yang mengumpulkan harta benda bagi dirinya sendiri tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. Maka marilah kita menjauhi ketamakan dan mengandalkan Tuhan serta mengasihi sesama yang membutuhkan uluran kasih kita.

(Fr. Paskalils Jaftoran)

“Di sini ada seorang anak seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini” (Yoh. 6:9).

Marilah berdoa:

Ya Allah yang Maha Pengasih, syukur atas talenta yang kau berikan dalam diri kami. Semoga dalam karya dan hidup kami selalu mengutamakan kemuliaan nama-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini