Hari Biasa (H)
Gal. 5:18-25; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:42-46.
Sebuah kisah inspiratif datang dari seorang anak kecil yang bernama Kelly. Kelly merupakan anak miskin yang tidak punya apa-apa. Pada suatu hari, Kelly mengetuk pintu sebuah rumah untuk meminta air. Bermaksud hanya meminta air, Kelly mendapat lebih dari apa yang ia minta. Wanita muda yang membukakan pintu baginya justru memberikan segelas susu dan makanan tanpa imbalan sedikitpun. Kelly yang malang itu pun seketika menjadi anak yang penuh semangat untuk menjalani kehidupannya, termasuk pendidikannya.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah kota besar, seorang ahli bedah ternama Dr. Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi dengan seorang wanita paruh baya yang menderita penyakit langka. Ketika wanita tersebut mengatakan kepadanya nama kota kecil di mana dia tinggal, Dr. Kelly merasa memori samar muncul menyadarkan pikirannya akan peristiwa masa kecilnya. Setelah lama dirawat di rumah sakit wanita itu akhirnya siap untuk kembali ke rumah. Karena penyakitnya yang serius wanita itu khawatir bahwa biaya rumah sakit akan menghasilkan tagihan yang cukup besar. Namun, ketika dia menerima surat tagihan, ia menemukan bahwa Dr. Kelly telah membayar seluruh tagihannya dan menulis catatan kecil untuknya, seperti ini: “Sudah dibayar lunas dengan segelas susu”.
Sabda Yesus hari ini hendak mengajak kita menuai apa itu kebaikan. Dalam Injil dikisahkan, Yesus mengecam keras orang Farisi dan ahli Taurat karena telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Kata “keadilan” berarti “hak (teristimewa hak dari mereka yang tertindas) yang dibenarkan oleh Allah”, sang Hakim yang adil. Sebab, orang yang menanam kebaikan akan menuai sukacita, sebaliknya orang yang menanam iri hati-kesombongan, akan menuai penderitaan. Oleh karena itulah Yesus mencela orang-orang Farisi karena mereka tidak mempedulikan hak-hak “orang kecil”, miskin dan tertindas. Seperti wanita dalam kisah di atas, kebaikan yang diperbuat akan kembali dengan sendirinya dalam cara yang adil dan tak dapat disangka-sangka.
Rasul Paulus menegaskan bahwa hanya hidup yang mengikuti roh yang bisa membawa kepada Kristus. Kebaikan itu telah dijelaskan secara terang-terangan oleh Paulus, yakni buah-buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya. Kita sebagai orang Kristiani telah dipanggil oleh Kristus, maka hendaknya kita pun mampu menuai kebaikan dari apa yang telah ditegaskan oleh Paulus. Menuai kebaikan artinya menyadari kehadiran kita bagi orang lain. Tidak sekedar menyadari, namun sejauh mana berguna dan bermanfaat kehadiran kita selama ini. Marilah, kita mohonkan kekuatan agar kesempatan dalam hidup ini kita dimampukan untuk mengikuti keinginan roh, sehingga akhirnya kehadiran kita mampu menjadi saksi untuk menanam dan menabur kebaikan.
(Fr. Jessel Bastian Supit)
“Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun” (Luk. 11:42-46).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, tanamkanlah cinta-Mu dalam hati kami. Amin.











