Hari Minggu Biasa XXXI (H).
Keb. 11:22 – 12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11 – 2:2; Luk. 19:1-10.
Kisah tentang Zakheus tidak asing lagi bagi kita. Cerita yang menarik karena Zakheus digambarkan memiliki badan yang pendek. Dan biarpun secara fisik terbatas karena ia bertubuh kecil-pendek, tetapi ternyata ia memiliki banyak uang dan karena itu membuat orang-orang sekitarnya iri dan tidak menyukai dia, apalagi diketahui bahwa ia menagih pajak lebih besar daripada yang harus dibayarkan. Tentu untuk kalangan tertentu pasti juga menyukai dia, karena ia memiliki uang dan harta yang banyak. Menjadi lebih menarik lagi kisah tentang Zakheus ini karena didapati bahwa ia naik pohon untuk melihat Yesus yang akan lewat. Ia pasti sudah mendengarkan siapakah Yesus itu. Zakheus sudah tahu bahwa Yesus bisa menjamin hidup rohaninya.
Diceritakan dalam injil betapa senang hati Zakheus ketika akhirnya dia dapat berjumpa dengan Tuhan Yesus. Yang lebih mengejutkan adalah, Tuhan Yesus ternyata berkenan untuk menumpang di rumahnya. Kita bisa membayangkan, orang-orang sekitarnya saja menjauhinya. Tetapi Tuhan Yesus sendiri, Sang guru agama yang mulai dikenal pada saat itu, justru ingin menumpang di rumahnya. Dengan demikian, de facto bahwa Tuhan Yesus ingin menumpang di rumah Lazarus, menjadi nyata bahwa Yesus jauh lebih agung dibanding apa yang orang-orang pikirkan. Itulah yang menyebabkan Zakheus rela kehilangan setengah hartanya dan berjanji untuk mengembalikan uang yang pernah dia peras sebanyak empat kali lipat. Atas keterbukaan diri untuk menerima Yesus menumpang dirumahnya dan disertai dengan sikap pertobatan, maka Zakheus memperoleh rahmat yang sungguh luar biasa. Peristiwa ini ditutup dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Zakheus dan seisi rumahnya menerima anugerah keselamatan. Perjumpaan ini sungguh membawa makna yang sangat mendalam bagi diri Zakheus, terlebih anugerah keselamatan yang ia terima bersama dengan keluarganya.
Kita sudah menjadi pengikut Tuhan Yesus sudah lama. Mungkin sejak kita dipermandikan pada masa kecil? Pun sejak kita masih dikandung oleh ibu kita? Dengan demikian ada banyak perjumpaan yang kita buat dengan Tuhan Yesus, lewat doa-doa pribadi kita atau doa bersama dengan keluarga atau umat lainnya. Tetap menjadi pertanyaan bagi kita. Apakah perjumpaan kita dengan Tuhan sering membawa perubahan atau pertobatan dalam diri kita? Apakah kita mengalami perubahan pola pikir seperti Lazarus? Percaya kepada Tuhan Yesus bukan sekadar mengaku di mulut saja dan merasakan luapan emosi sukacita sesaat. Tetapi, mesti diikuti dengan pertobatan, perubahan pola pikir, yang harus diwujudkan di dalam kehidupan kita. Setiap perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus mestinya membawa perubahan atau pertobatan demi menjadi pribadi yang lebih baik dihadapan Tuhan dan Sesama.
(Pst. Melky Malingkas, Pr)
“Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19: 5).
Marilah berdoa:
Tuhan, buatlah kami selalu ingat akan belaskasihan dan kerahiman-Mu, agar ketika kami jatuh dalam dosa, kami akan selalu bertobat dan kembali kepada-Mu. Amin











