Pw S. Vinsensius a Paulo, Im (P)
BcE Ayb. 3:1-3,11-17,20-23; Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk. 9:51-56; atau dr RUybs
Pengalaman yang kurang menyenangkan atau pengalaman pahit dalam kehidupan yang kita jalani, sering membuat kita marah, mengeluh, menyerah dan bahkan sampai putus asa. Ketika Nabi Ayub mengalami suatu pencobaan lewat pengalaman hidup yang kurang baik, ia mengeluh dan bahkan sampai menyesali kelahirannya. Pengalaman pahit ini juga dialami oleh Yesus dan para murid dalam perjalanan mereka menuju ke Yerusalem. Kala itu mereka ditolak dan tidak diterima oleh orang Samaria. Pengalaman ini sampai membuat Yohanes dan Yakobus hendak menyuruh api untuk turun dan menghancurkan desa itu dan membinasakan orang-orang Samaria itu. Namun sebaliknya Tuhan menegur mereka dan berpaling ke desa yang lain karena Ia tidak menghendaki mereka dibinasakan.
Dalam menjalani kehidupan ini, pengalaman-pengalaman yang dialami oleh Yesus dan para murid-Nya ketika ditolak oleh orang Samaria, merupakan suatu kenyataan hidup yang sangat tidak mengenakkan atau merupakan suatu pengalaman yang sangat sulit bagi kita untuk diterima. Pengalaman seperti ini sering kita alami baik dalam pekerjaan, pendidikan, relasi bersama, dan bahkan kita juga sering mendapatkan penolakan dari keluarga kita. Pengalaman-pengalaman ini kadang membuat kita kecewa, marah dan bahkan tidak berdaya. Hal-hal inilah yang sering membuat hidup kita tidak baik dan kacau.
Dalam menghadapi pengalaman demikian, Tuhan mengajak kita untuk tidak marah, kecewa, menyerah atau putus asa. Ini sangat jelas dalam tindakan Tuhan yang menegur kedua murid-Nya yang hendak membinasakan desa itu. Tuhan mengajak kita untuk membuka diri atas pengalaman itu dengan menerima semuanya itu dalam kehidupan kita. Tuhan mengajak kita untuk dapat menerima setiap pengalaman hidup yang kita alami bahkan sampai pada pengalaman menyakitkan sekalipun.
Hal yang sama juga ditampilkan oleh Santo Vincentius a Paolo yang kita peringati hari ini. Dalam hidupnya, Santo Vincentius tidak pernah menyerah ketika mengalami pengalaman yang menyedihkan saat dia ditangkap oleh bajak laut dan dijual sebagai budak. Pengalaman ini tidak membuat dia menyerah namun sebaliknya membuatnya semakin mencintai Tuhan dan sesama. Hal itu ia buktikan dengan memberikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin, sakit dan terlantar. Walaupun sering mendapat penolakan, ia tetap melayani mereka.
(Fr. Silvianus Fidelis Bentalen)
“Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka” (Luk. 9:55).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk tidak mudah menyerah dalam mengahadapi setiap pengalaman hidup ini. Amin











