Hari Biasa (H)
BcE Ayb. 1:6-22; Mzm. 17:1,2-3,6-7; Luk. 9:46-50.
Kemajuan iptek amat membantu manusia dalam bekerja. Bahkan manusia seolah dimanjakan dan merasa diri bak dewa. Situasi demikian memantaskan kita untuk bertanya: apakah iman masih tetap ada dalam diri manusia? Kenikmatan dan kemudahan serta kekayaan yang diperoleh berkat eksploitasi alam dengan teknologi seolah membuat manusia lupa pada Sang Khalik. Hal ini bukanlah masalah sepele, sebab di sini relasi manusia dengan Allah sedang terancam – keberadaan Tuhan mulai diragukan.
Persoalan serupa pun dikisahkan dalam Kitab Suci. Ada seorang saleh yang amat taat pada Allah, Ayub namanya. Oleh karena kesalehannya, Ayub diberkati Allah dengan harta dan keturunan melimpah. Namun pada suatu hari Allah memberi kuasa pada iblis atas seluruh harta Ayub untuk menguji kesalehan Ayub. Iblis lalu mengambil semua milik Ayub, mulai dari harta sampai anak-anaknya. Meski demikian iman Ayub tak gentar. Ia tidak menyalahkan Allah, dan malahan ia berserah pada Allah.
Kisah Ayub itu menyadarkan kita bahwa jika segala kenikmatan yang kita miliki diambil apakah kita dapat tetap bersyukur? Ayub adalah model orang yang beriman kepada Allah. Dia sadar bahwa apa yang dimilikinya di dunia adalah pemberian dari Allah dan bila Allah mengambilnya kembali ia tak dapat berbuat apa pun. Oleh sebab itu ia tak menyalahkan Allah.
Penginjil Lukas juga mengisahkan tentang para murid Tuhan yang terlalu sibuk dengan persoalan kedudukan di antara mereka. Itu terjadi karena mereka belum paham Mesias seperti apa Yesus itu. Bagi mereka Mesias adalah seorang raja yang akan memerdekakan Israel dari penjajah Roma. Menarik bahwa ternyata Yesus mengetahui perdebatan mereka itu. Lantas apa tanggapan Yesus? Jawab-Nya yang terkecil akan menjadi yang terbesar dan yang terbesar akan menjadi yang terkecil.
Ketika berkata demikian Yesus menempatkan seorang anak kecil di samping-Nya. Ia hendak menyatakan tentang kualitas diri yang harus ada pada para murid layaknya seorang anak kecil yang polos, murni, dan punya ketulusan hati.
Dua kisah itu hendak berbicara tentang kesetiaan kita mengikuti Allah. Menjadi pengikut Allah adalah suatu perjuangan untuk menunjukkan kualitas kita kepada-Nya. Yesus mengatakan bahwa barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, Ia menyambut Aku. Artinya kualitas diri sangat diperlukan dan ini bukanlah hal mudah. Makanya orang bijak berkata: ’’Hidup itu perjuangan“. Menjadi pengikut yang setia harus rela berkorban dan berusaha membuka diri terhadap rencana Allah pada diri kita.
(Fr. Fujio Fransiskus Tawas)
“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian adalah yang terbesar” (Luk. 9:48b).
Marilah berdoa:
Tuhan, terima kasih atas kehadiran-Mu dalam diri kami, semoga kami menjadi pengikut-Mu yang setia dan berusaha memiliki iman layaknya Ayub. Amin.











