“Iman yang Sejati”: Renungan, Kamis 29 September 2022

0
1503

Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung

Dan. 7:9-10,13-14 atau Why. 12:7-12a; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,4-5; Yoh. 1:47-51

 Hari ini Gereja merayakan Pesta Malaikat Agung: Mikael, Gabriel, dan Rafael yang melayani Tahta Allah. Para malaikat ini menjadi utusan Allah dalam karya penyelamatan-Nya. Mikael sebagai Sang Panglima Balatentara Surga yang diutus untuk menumpas kejahatan; Gabriel sebagai Pembawa kabar sukacita kepada manusia, terutama menyampaikan kabar sukacita kepada Maria yang dipilih oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus dan juga kepada Zakaria untuk memberitakan tentang Elisabeth yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak pada hari tuanya. Rafael sebagai penyembuh dan selain itu juga sebagai pelindung dalam perjalanan yang dikisahkan sebagai tabib bagi Tobit dan teman seperjalanan Tobia. Meskipun kita tidak melihat secara langsung sosok dari ketiga malaikat ini, tetapi sebagai seorang yang beriman tentu kita percaya bahwa malaikat itu ada, diciptakan oleh Allah, dan diberi tugas untuk mendampingi dan menjadi pelindung bagi manusia.

Bacaan Injil mengisahkan tentang pertemuan Yesus dan Natanael. Yesus melihat Natanael yang datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”. Yesus berkata demikian sebab Dia melihat sikap dari Natanael yang rela datang dan ingin berjumpa dengan-Nya. Natanael merupakan seorang Israel yang sejati yang berusaha mencari kebenaran dalam Yesus. Dia percaya bahwa Yesus adalah penyelamat yang dinantikan, maka dengan penuh kepercayaannya itu, ia berkata: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel”. Iman dan pengakuan Natanael pun dipuji oleh Yesus. Tetapi, Yesus berkata kalau Dia akan menunjukkan hal-hal yang lebih dari pada itu. Maksudnya bahwa Yesus lebih menghargai iman yang keluar karena firman-Nya bukan karena iman yang timbul karena ada keajaiban atau karena bukti yang lain.

Injil hari ini mengajak kita untuk bertanya dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati? Menjadi seorang pengikut Kristus, kita harus mampu melepaskan diri dari segala kepalsuan. Sebab kadangkala masih ada kepalsuan-kepalsuan dalam kita menjalani kehidupan, misalnya kita membantu orang agar dengan harapan mendapat imbalan; kita bertingkah baik hanya sebatas mencari apa yang kita inginkan, seperti supaya mendapat kehormatan atau jabatan. Bahkan kadangkala kita menunjukkan iman yang palsu, di mana kita mengakui sebagai pengikut Kristus tetapi tidak melakukan apa yang diajarkan dan diperintahkan oleh-Nya.

Melalui perayaan hari ini, kita pun diajak untuk supaya membangun hidup yang sejati sebagaimana yang ditunjukkan oleh para Malaikat Agung. Mereka penuh dengan ketaaan kepada Allah yang mengutus mereka. Kita pun diajak untuk menjadi seperti Natanael yang menunjukkan kesejatian imannya di mana ia selalu berusaha untuk berjumpa dan mendekatkan diri pada Yesus dan mengakui dengan penuh iman bahwa Yesus adalah Mesias yang datang sebagai Penyelamat kita.

(Fr. Marco Y. Mamarodia)

“Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (Yoh. 1:49).

Marilah berdoa:

Ya Allah, tuntunlah kami agar tidak selalu hidup dalam kepalsuan, melainkan selalu membangun hidup yang sejati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini