“Hikmat Allah”: Renungan, Minggu 4 September 2022

0
1395

Hari Minggu Biasa XXIII (H)

Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33.

Salah satu kelemahan manusia yakni kecenderungan merasa diri paling baik, benar dan saleh dari yang lain. Kelemahan ini seringkali dijadikan sebagai tameng untuk membenarkan diri dan mengakui kekuatan yang berasal dari diri sendiri. Akhir-akhirnya, manusia jatuh pada sikap sombong, iri hati dan egoistis.

Kitab Kebijaksanaan Salomo menegaskan betapa manusia rapuh dan tak berdaya di hadapan Tuhan. Manusia membutuhkan Tuhan sebab kekuatan fisik dan akal budi saja tidak cukup. Manusia membutuhkan hikmat yang berasal dari Tuhan karena ia sendiri tidak bisa menyelami kehendak-Nya hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya, “Siapa gerangan dapat mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?” (Keb. 9:17).

Dari penjara, Rasul Paulus menyurati Filemon rekan yang dikasihinya agar menggunakan kebijaksanaannya untuk menerima kembali Onesimus hambanya yang saat itu bersama-sama dengan Paulus di dalam penjara. Secara tersirat, Paulus justru menekankan bahwa seseorang yang memiliki kebijaksanaan haruslah orang yang berkehendak, bertindak dan bertutur secara sukarela dan bukan karena terpaksa. Ia mau agar Filemon – karena kebijaksanaannya – menerima kembali Onesimus bukan sebagai hamba lagi tetapi sebagai saudaranya. Inilah tindakan nyata dari orang yang bijaksana versi Paulus.

Penginjil Lukas memberi kesaksian bagaimana Yesus yang penuh hikmat Allah meminta kepada orang banyak yang mengikuti-Nya untuk bertindak bijaksana dalam menentukan pilihan mereka untuk menjadi murid-Nya. Yesus mengingatkan bahwa seseorang yang mau mengikuti-Nya harus memikul salib dan menyangkal diri. Dari perspektif manusia, syarat-syarat ini berat dan butuh pertimbangan matang. Melepaskan segala sesuatu yang dimiliki dan kemudian mengikuti Yesus adalah syarat mutlak dan tidak boleh ditawar-tawar. Hanya mereka yang mempunyai kebijaksanaan dari Allah sajalah yang mampu menyelami kehendak Allah dan dengan demikian bertindak dan dapat memutuskan dengan penuh kebijaksanaan.

Dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita bisa belajar sesuatu bahwa sebagai manusia – sekuat apapun fisik dan sehebat apapun akal budi – kita sama sekali tak berdaya dan membutuhkan hikmat dari Allah. Untuk memahami kebijaksanaan Allah dan menjadi murid Kristus yang sejati, kita harus terlebih dahulu melepaskan keterikatan dengan hal-hal fana sehingga pada akhirnya kita bisa memutuskan segala sesuatu secara sukarela dan penuh sukacita di dalam Tuhan.

Hari ini – dan selama bulan September – bersama dengan seluruh Gereja, kita diajak untuk menyelami kebijaksanaan Allah itu dengan membaca dan semakin mencintai Kitab Suci. Kita diingatkan bahwa tidak ada jalan lain selain membaca dan mencintai Kitab Suci jikalau kita hendak mengenal Kristus dan serentak memahami apa yang menjadi rencana-Nya. Dengan penuh kerendahan hati, kita mohon agar Roh Kudus membimbing kita masuk ke dalam kebijaksanaan ilahi melalui Sabda-Nya yang penuh daya dan kuasa itu.

(Fr. Dkn. Ray Legio Angelo Lolowang)

 

            “… siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?” (Keb. 9:13b).          

Marilah berdoa:

Ya Kristus, utuslah Roh-Mu yang kudus untuk membimbing kami masuk ke dalam kehendak dan kebijaksanaan Sabda-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini