“Buanglah Ragi dari Roti yang Baik” : Renungan, Senin 5 September 2022

0
1182

Hari Biasa (H)

 BcE 1Kor. 5:1-8; Mzm. 5:5-6,7,12; Luk. 6:6-11.

Dalam hubungan pertemanan, ada teman yang tidak senang ketika orang berbuat baik. Ada juga teman yang suka dengan tindakan-tindakan yang buruk. Misalnya bolos sekolah, mabuk-mabukan, balapan motor dan lain sebagainya. Tindakan-tindakan seperti itu terkadang dianggap sebagai prestasi atau kehebatan. Sebab itu teguran dari orang lain untuk tidak mabuk-mabukan, balapan motor, dianggap hanya kata-kata yang tak berarti. Sifat manusia seperti inilah yang membuat manusia jauh dari kebaikan. Jauh dari kebaikan berarti jauh dari Tuhan. Sebab segala sesuatu yang baik selalu terarah pada Tuhan. Tuhan menghendaki agar manusia berbuat baik

Injil hari ini mengisahkan Yesus menyembuhkan orang pada Hari Sabat. Ada seseorang yang mati tangan kanannya. Yesus tidak tega melihat dan membiarkannya. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Maka Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya itu. Kebaikan yang Yesus lakukan atas dasar kepedulian serta belaskasihan membuat ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjadikan kesempatan itu sebagai alasan untuk mempersalahkan Yesus. Malahan, amarah mereka meluap dan kemudian mereka berunding untuk membicarakan hal apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Bacaan pada hari ini mau memberikan suatu pelajaran kepada kita agar membuang segala perilaku jahat dan perilaku yang menghambat kebaikan. Dan lebih daripada itu kita disadarkan bahwa untuk melakukan hal yang baik tidaklah selalu menyenangkan. Terkadang kebaikan selalu disertai dengan cemoohan, iri hati, dan kebencian. Bahkan kebaikan kita bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk mempersalahkan kita. Itulah konsekuensi yang terkadang kita terima kalau melakukan suatu perbuatan yang baik dan juga itulah konsekuensi jika kita berusaha untuk merubah kebiasaan atau cara berpikir orang yang salah. Kebanyakan orang lebih mementingkan kebiasaan setempat dari pada mempedulikan keselamatan orang lain.  Walaupun demikian, sebagai pengikut Kristus kita jangan takut untuk dibenci oleh orang karena berbuat baik.

(Fr. Romi Lermatan)

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi” (1Kor. 5:7a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk mengalahkan kekuatan iblis, supaya kami dapat melakukan kebaikan dalam hidup ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini