“Berimankah Kalian?”: Renungan, Senin 12 September 2022

0
1127

Hari biasa (H)

1 Kor. 11:17-26; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 7:1-10

Bacaan Injil hari ini mengisahkan seorang perwira yang memiliki hamba yang sangat ia hargai. Mendengar keberadaan Yesus, sang perwira menyuruh para orang tua Yahudi untuk memanggil Yesus supaya menyembuhkan hambanya. Tentunya perwira sudah mengetahui dengan jelas latar belakang dari Yesus. Ia telah banyak mendengar perbuatan-perbuatan agung dari Yesus. Ia telah mendengar segala mujizat-mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus. Sehingga ia percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkan hambanya. Tetapi ketika Yesus hampir tiba di rumahnya, perwira itu merasa tidak pantas menyambut Yesus meskipun ia merupakan orang yang memiliki wewenang. Sikap kerendahan hati dan kepercayaan dari perwira ini membuat hati Yesus tergerak. Yesus kemudian menyembuhkan hamba dari perwira itu.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan kita mengenai dua hal. Pertama, tentang kepercayaan. Kepercayaan akan membawa kita kepada penyerahan diri secara total kepada penyelenggaraan Allah terhadap diri kita. Kedua, kerendahan hati. Kerendahan hati yang kita miliki akan menjadi modal yang sangat besar dalam mengaplikasikan iman kepercayaan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan umat di Korintus untuk senantiasa menjalankan perintah-perintah dari Yesus. Paulus melihat bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh umat di Korintus sudah tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus. Hal ini dikarenakan adanya kesombongan dalam diri mereka. Hal tersebut menyebabkan hilangnya kerendahan hati dari umat. Akhirnya mereka melakukan praktek perjamuan yang salah. Bukan lagi untuk kemuliaan Allah tetapi untuk kesenangan duniawi yang menyebabkan kemabukan.

Kita dalam menjalani hidup sehari-hari kadangkala tidak menyadari bahwa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Tetapi kita melakukannya atas nama Tuhan. Bahkan tak jarang kita menemui kejahatan-kejahatan yang terjadi dengan mengatasnamakan Tuhan. Mencari keuntungan atas nama Tuhan, bahkan mendiskriminasi sesama kita. Semua itu kita lakukan, seolah-olah sebagai bentuk tindakan iman dan untuk mewartakan keselamatan. Pada hari ini kita diingatkan akan kebenaran iman yang sejati. Iman yang benar adalah iman yang membawa keselamatan bagi diri kita dan sesama dan untuk melakukannya diperlukan kerendahan hati dari kita supaya iman itu tidak berujung pada kesesatan duniawi.

(Fr. Albertus Solang)

“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel” (Luk.7:9b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga saya semakin menjadi beriman dan rendah hati di dalam menjalankan kehidupan saya sehari-hari. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini