“Introspeksi Diri” Renungan Selasa, 23 Agustus 2022

0
1341

Hari Biasa (H)

2Tes. 2:1-3a,13b-17; Mzm. 96:10,11-12a,12b-13; Mat. 23:23-26.

Orang Farisi adalah orang-orang Yahudi yang mempertahankan Taurat Musa dan ajaran tradisi Musa, yang menekankan formalitas berlebihan secara detail. Sikap mereka yang arogan mengabaikan hukum moral membebani ke pundak orang lain dalam bentuk peraturan yang harus ditaati. Dalam bacaan Injil Yesus mengecam dengan sangat keras ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi. Yesus sangat keras kepada mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang penuh dengan kemunafikan seperti nabi palsu. Mereka selalu mengajarkan banyak ajaran-ajaran tentang hukum Allah, tetapi mereka sendiri mengabaikannya. Mereka selalu menganggap diri yang paling benar sehingga mereka bisa dengan mudah menghakimi orang yang lemah. Yesus dalam bacaan Injil sangat mengutuk keras dan mengkritik tindakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebab mereka sibuk dengan persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan namun mereka mengabaikan yang terpenting dalam hukum taurat. Yesus menegaskan kepada mereka “yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan dilakukan.” Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa sisi terdalam dari segala tindakan persembahan adalah : keadilan, belas kasih, dan kesetiaan. Ketiga sifat tersebut menjadi tuntutan Allah kepada mereka berdasarkan kitab Taurat. Yesus tidak ingin ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berbuat kebaikan tidak sesuai dengan ketulusan hati. Mereka hanya dapat menghakimi orang lain tetapi tidak dapat melihat betapa besar dosa dalam diri mereka sendiri.

Teguran Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjadi teguran bagi kita bahwa  mungkin tanpa kita sadari tindakan kita sering menyerupai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang munafik. Menyangkal diri adalah cara terbaik untuk mengubah diri kita menjadi baik. Kita harus mengenal terlebih dahulu kekurangan-kekurangan dalam diri dan kemudian ubahlah itu menjadi kelebihan-kelebihan. Persembahkanlah diri kita sepenuhnya kepada Tuhan sembari melaksanakan tiga tuntutan Allah yakni keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Persembahan kita yang paling baik adalah hidup kita sendiri di samping itu juga persembahan syukur lain yang berasal dari hasil kerja keras kita dan usaha yang benar, adil dan jujur. Bukan dari hasil manipulasi, korupsi atau tindakan tidak adil lainnya. Ingatlah bahwa perbuatan jahat kita akan diadili oleh Tuhan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati, teladan dan sumber pengajaran kita yang paling benar adalah mengikuti teladan dan perintah Yesus Kristus. Rasul Paulus dalam bacaan pertama menegaskan kepada kita supaya kita jangan mudah akan penantian hari Tuhan dan janganlah membiarkan dirimu disesatkan dan terjerumus pada dosa yang akan membawa pada kebinasaan. Tetapi selalu bertekunlah dalam pengajaran Yesus Kristus. Kita dapat dengan mudah bertemu dengan Yesus dan mendengarkan ajaran-Nya melalui misa kudus, ibadat bersama, doa, mengasihi sesama, adil, dan selalu setia kepada Tuhan. Maka dengan demikian kita menjadi anak-anak Allah yang sesungguhnya.

(Redaksi Lentera Jiwa)

“Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” (Mat. 23:24)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami menjadi pribadi yang adil, berbelas kasih dan setia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini