“Sederhana Saja”: Renungan, Rabu 13 Juli 2022

0
1210

Hari Biasa (H)

Yes. 10:5-7,13-16; Mzm. 94:5-6,7-8,9-10,14-15; Mat. 11:25-27.

Kerajaan Allah dinyatakan kepada kaum sederhana, kaum kecil bahkan yang terpinggirkan. Kaum sederhana, miskin, kecil bahkan terpinggirkan dianggap sebagai bagian dari kelas paling bawah dalam tradisi dan kebudayaan Yahudi. Para Gembala dalam kisah kelahiran Yesus adalah mereka yang menurut orang Yahudi sebagai kaum pendosa. Namun Allah pertama-tama menyatakan Kedatangan Kerajaan-Nya kepada mereka, kaum sederhana dan miskin itu. Mereka yang hidup sederhana, memiliki ekonomi menengah ke bawah, mereka yang bukan kaum bangsawan dan pemerintahan ataupun kaum lewi adalah mereka yang tidak pantas dihormati. Hal itulah yang mendorong pewartaan Yesus yakni menyelamatkan mereka yang berdosa dan keselamatan kepada mereka yang sederhana. Yesus sendiri lahir dalam kesederhanaan dalam keluarga yang sederhana. Para murid pun demikian dari kalangan orang sederhana; Petrus dan Andreas Nelayan, begitu pula Yakobus dan Yohanes, dan para murid lainnya. juga Maria ibu-Nya yang adalah orang yang sederhana. Maka, Pewartaan-Nya pun ditujukan bagi mereka yang sederhana dan membutuhkan pertolongan-Nya. Itulah yang ia perlihatkan dalam seluruh hidupnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus memuji dan bersyukur kepada Bapa atas rahmat yang diberikan kepada umat-Nya yakni Kerajaan Allah itu sendiri. Kerajaan Allah dinyatakan dan diwahyukan dalam dan melalui Dia. Dalam Dia, Kerajaan Allah yang tak kelihatan itu, kini dialami oleh para murid. Yesus Kristus sendiri adalah pernyataan sempurnaan Kerajaan Allah di dunia. Dia menyatakan-Nya diri kepada para murid-Nya sebagai pengejawantahan diri Allah. Namun, tidak semua yang mengenal mereka selain para murid itu. Hal itulah yang ditegaskan Yesus bahwa hanya Bapa yang mengenal Anak, dan Anak mengenal Bapa dan yang dinyatakan Anak itu yakni para murid-nya, mereka yang sederhana. Hal itu berbeda dengan raja Asyur. Ia yang telah menjadi cambuk murka Tuhan, menjadi sombong dan lupa bahwa Allahlah yang menyelenggarakan segalanya. Dia menyombongkan dan membanggakan diri bahwa apa yang ia lakukan yakni mengalahkan bangsa-bangsa adalah usahanya sendiri, karena kemampuannya, kebijaksanaannya, akal budinya. Ia lupa bahwa Ia hanya alat Tuhan. maka, hal itu yang akhirnya juga akan membinasakannya kelak.

Kesederhaan sesungguhnya adalah kelemahlembutan, tulus, total dan rendah hati. Kesederhaan pertama-tama ditampilkan Yesus. Dia memuji Bapa-Nya. Dia tahu bahwa segalanya adalah miliki Bapa. Ia yang adalah Allah mengajarkan bagaimana setiap manusia juga harus bersyukur atas segala yang telah diberikan Allah kepadanya bukan menyombongkan diri atas keberhasilan yang diperoleh. Segalanya telah Tuhan berikan, maka apa yang harus dilakukan? Sederhana saja dan tidak perlu yang sulit yakni bersyukur dalam doa harian dan Ekaristi sambil melakukan kebaikan dalam hidup dengan sesama dan lingkungan sekitar. Sederhana saja itu cukup. Allah saja sederhana masakan kita tidak bisa sederhana?

(Fr. Feighty Sandehang)

“Aku bersyukur kepada Bapa, Tuhan langit dan Bumi.” (Mat.11:25a)

Marilah berdoa:

Bapa, kami bersykur atas berkat-Mu yang nyata dalam hidup kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini