“Kesempurnaan Cinta”: Renungan, Senin 25 Juli 2022

0
1495

Pesta S. Yakobus, Ras (M).

2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28.

Pengorbanan adalah satu kata yang menjadi bentuk sempurna dari cara orang mengasihi. Kasih yang ditunjukkan oleh seseorang haruslah dilandasi dengan pengorbanan. Rela berkorban merupakan bukti betapa ia mengasihi saya dan saya mengasihi nya. Pengorbanan yang dilandasi dengan kasih menghantar pada sebuah kesempurnaan dan totalitas serta kejernihan juga ketulusan dari kasih itu. Kasih bukan sekadar sebuah kata namun suatu aksi yang dinyatakan dalam pengorbanan.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengingatkan mereka bahwa kurnia yang ada pada mereka berasal dari Allah sendiri dan apa yang mereka peroleh itu diberikan pula kepada setiap umat beriman dalam pembaptisan. Dalam pembaptisan, kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pewartaan dan berkat dalam diri setiap orang yang menerima itu. Hal itu pula ditunjukkan oleh Yesus kepada para murid-Nya yakni cawan yang ada pada-Nya juga akan diterima oleh para murid-Nya. Maksud dari itu ialah, Allah yang adalah kasih menyatakan kasih itu dalam dan melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Yesus menjadi tanda paling nyata dari pengorbanan Allah bagi umat-Nya. Kasih-Nya tidak hanya ditunjukan melalui perkataan tetapi nyata melalui kehadiran Putera-Nya itu. Yesus yang adalah kasih itu menyatakan kehadiran Allah Bapa-Nya. Kelahiran, Karya Pewartaan, Hidup-Nya, Penderitaan dan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya, Kenaikan-Nya ke Surga hingga turun-Nya Roh Kudus serta janji Penyertaan-Nya melalui Roh itu sampai akhir zaman adalah bentuk kesempurnaan cinta yang tak terbatas. Hal itu telah jelas dalam wafat-Nya di mana Ia mengorbankan Tubuh dan Darah-Nya pada manusia sebagai pemulih atas dosa-dosa mereka. Hal yang sama juga oleh Rasul Yakobus tua, saudara Yohanes para anak Zabedeus yang dijuluki ‘putera petir’ bersama saudaranya telah mengikuti Guru-Nya sampai akhir hidupnya. Ia memberikan seluruh hidup-Nya pada pewartaan cinta kasih Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus sampai kepada orang Spanyol. Pewartaannya inilah yang menghantarnya pada kemartiran. Yakobus menjadi rasul pertama yang meminum cawan kemartiran dengan dipancung karena mewartakan Yesus.

Pengorbanan telah dinyatakan oleh Rasul Yakobus tua. Ia mengikuti Yesus dengan segala yang ada padanya. Ia menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus bahkan sampai mati sebagai martir Kristus. Maka, inilah yang merupakan cinta yang sebenarnya. Cinta bukan sebatas kata tetapi memerlukan sebuah pengorbanan. Sudahkah kita mengorbankan waktu kita pada Tuhan dan sesama? Ataukah kita takut berkorban karena nanti dianggap cari muka, popularitas? Ataukah cinta hanya menjadi wacana belaka bahkan judul sebuah cerita kehidupan yang tiada maknanya?

Redaksi Lentera Jiwa

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28)

Marilah berdoa:

Bapa, ajarilah kami mencintai-Mu dan sesama kami dengan seluruh diri. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini