“Belajar pada Yesus”: Renungan, Kamis 14 Juli 2022

0
1449

Hari Biasa (H).

Yes. 26:7-9,12,16-19; Mzm. 102:13-14ab, 15,16-18,19-21; Mat. 11:28-30

Pada zaman Yesus, sebagian besar orang Yahudi bermata pencarian sebagai petani. Tidak heran jika profesi petani merupakan sumber pendapatan utama. Itulah sebabnya kata-kata yang disabdakan Yesus merupakan kata-kata yang identik dengan kehidupan masyarakat Yahudi sehingga Sabda-Nya itu dapat dimengerti. Dalam mengolah pertanian seorang petani membutuhkan sapi atau kerbau untuk menarik bajak.  Tapi bajak tidak akan berfungsi apabila tidak ada “kuk”. Istilah “kuk” bagi petani  ditujukan kepada sebuah palang kayu yang dipasang pada tengkuk sapi sehingga memudahkan petani  untuk dapat menarik bajaknya. Istilah “kuk” dalam kitab suci teristimewa dalam Injil Matius merupakan bahasa kiasan  yang lazim digunakan oleh para rabi Yahudi yang mengarah pada  Hukum Taurat.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya dengan baik sekali melukiskan bagaimana penghakiman Allah itu akan terlaksana dan Allah menjamin umatnya dibebaskan dan dimuliakan. Pencobaan yang dialami menyiapkan pemulihan kelak, itulah sebabnya sakit beranak merupakan gambaran Nabi Yesaya bagaimana masa pencobaan yang akan terjadi menjelang  kedatangan Mesias. Kebebasan dan kemuliaan akan terlaksana apabila orang Israel menjalani hidup benar yang dibentangkan oleh Tuhan. Orang yang taat kepada Tuhan dan berbuat adil akan melangkah dengan aman di jalan Tuhan, sedangkan orang yang tidak taat mendapat hukuman sebagaimana yang terjadi dengan orang Israel yang dihukum oleh Allah karena tidak taat dan setia kepada-Nya.

Penginjil Matius menggambarkan bagaimana Yesus mengajak orang banyak untuk mengikuti kuk “hukum taurat” yang digenapi oleh-Nya  dan melepaskan mereka dari beban barat. Beban berat itu ialah hukum taurat yang dibacakan dan didengung-dengungkan oleh ahli taurat dan kaum farisi tapi tidak menjalankannya bahkan mengajarkan yang tidak benar mengenai hukum itu. Mereka menjadikan hukum itu sebagai penguat argumen untuk membenarkan diri. Itulah sebabnya  dalam injil Matius 5:17, Yesus bersabda, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.” Kegenapan inilah yang dimaksudkan Yesus sebagai “kuk yang kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Maka, marilah kita belajar dari Yesus untuk selalu taat pada kehendak Allah, berserah diri pada Tuhan dan percaya bahwa hanya melalui penyelenggaraanNyalah kita menimba kekuatan dalam menjalankan setiap kehidupan kita. Kita juga belajar seperti Yesus yang tidak hanya berkata-kata tetapi juga menjalankan itu dalam kehidupannya.

(Fr. Yoseph Marjo Setitit)

“Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakannya nanti akan memuji-muji Tuhan”. (Mzm. 102: 19)

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, bantulah kami untuk taat pada kehendak-Mu dalam hidup kami. Amin.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini