“Allah adalah Kasih”: Renungan, Jumat 29 Juli 2022

0
1328

Pw. S. Marta, Maria dan Lazarus (P)

1 Yoh. 4:7-16; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9,10-11; Yoh. 11:19-27 atau Luk. 10:38-42.

Umat beriman adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang mengimani Tuhan. Umat adalah kumpulan dari orang banyak yang tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut Gereja. Beriman adalah kata kerja yang menjelaskan umat itu adalah mereka yang mengimani Tuhan dalam hidup mereka.

Tetapi lebih dari pada itu, beriman bukan soal mengimani atau percaya saja kepada Tuhan tetapi penyerahan diri pada kehendak, rencana, penyelenggaraan dan cinta-Nya dalam hidup setiap hari. Penyerahan diri inilah yang membuat seseorang disebut orang beriman. Hal itulah yang ditampilkan oleh Marta, Maria dan Lazarus yang Gereja peringati hari ini. Mereka telah menemukan Tuhan yang diimani itu dengan cara mereka masing-masing.

Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama memberikan penegasan mengenai bagaimana beriman yang sesungguhnya. Beriman itu diungkapkan melalui kepercayaan penuh pada Allah melalui sikap saling mengasihi antar sesama. Dalam kasih, Allah hadir dan menyatakan diri-Nya. Kasih itu telah dinyatakan oleh-Nya melalui kehadiran nyata (realis presentia) dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya yang menjelma menjadi manusia. Ia yang tidak kelihatan itu sekaligus diimani oleh setiap orang, telah menyatakan diri-Nya dalam daging dan bisa dilihat, dirasakan dan dialami. Hal itu pulalah yang dialami oleh Marta, Maria, dan Lazarus.

Dalam Injil terdapat tiga sikap yang dapat dilihat yakni, pertama, Marta dalam beberapa kisah dalam Injil Sinoptik dan Yohanes menampilkan peran yang berbeda dengan Maria, saudarinya. Marta lebih aktif dan banyak melakukan aksi. Kedua, Maria lebih tenang dan memilih untuk diam. Ketiga, Lazarus oleh Lukas ditempatkan sebagai bagian dalam perumpamaan di mana Lazarus yang sakit dan meminta tolong kepada orang kaya tetapi tidak ditolong, meninggal dan mengalami kemegahan surgawi (bdk. Luk. 16:19-31).

Hal yang berbeda ditampilkan oleh Yohanes di mana melalui permintaan Marta, Yesus yang mengetahui Lazarus meninggal datang dan hendak membangkitkan Lazarus. Kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus itu diawali oleh Marta yang datang kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya. Dalam kisah itu Marta percaya bahwa Yesus akan membangkitkan saudaranya, Lazarus. Jawaban percaya Martalah yang membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin karena bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Maka, setiap umat beriman boleh belajar dari Marta yang mencari Tuhan dengan keaktifannya, Maria yang mencari dan mendengarkan Tuhan dalam diamnya, dan Lazarus yang penuh pengharapan akan kebaikan Tuhan melalui sesamanya. Hendaklah, setiap umat beriman berusaha menemukan Tuhan dengan cara kita masing-masing terutama mencari dan menemukan serta menghadirkan Tuhan melalui kasih terhadap sesama. Dengan demikian, kehadiran-Nya yang telah kita peroleh, juga dialami oleh sesama kita. Sebab, Allah adalah kasih. Ia hadir dan diam dalam diri kita. Ia telah menunggu kita untuk menemukan-Nya. Sudahkah kita mencari-Nya?

(Fr. Stevan Lerebulan)

“Allah adalah Kasih.” (1 Yoh. 4:16b)

Mariah berdoa:

Demi kasih setia-Mu yang besar, jawablah aku, Ya Tuhan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini