”Tamparan Kasih: Renungan, Senin 13 Juni 2022

0
1275

Pw S. Antonius dari Padua, ImPujG (P)

1Raj. 21:1-16; Mzm. 3:2-3,5-6,7; Mat. 5:3842.

Mata ganti mata, gigi ganti gigi merupakan ungkapan dari hukum pada zaman Nabi Musa. Hukum itu yang masih dipakai oleh banyak orang zaman sekarang ketika mereka dipermalukan, dilecehkan, dihina, dipukul, tidak dianggap dan lainnya. Mereka menganggap bahwa ‘ketika saya dipukul atau dipermalukan maka, orang yang melakukan hal itu terhadap saya harus merasakan hal yang sama bahkan kalau boleh lebih sadis dari apa yang mereka lakukan’. Pikiran maupun ungkapan itu muncul ketika di mana emosi tidak stabil, marah atau karena malu karena hal itu terjadi di tengah umum apalagi di depan orang-orang yang mengenali secara dekat. Namun apakah saya sebagai orang kristen yang menjunjung dan menghidupi cinta kasih Allah melakukan hal tersebut ketika berada pada saat yang sama itu?

Hukum yang utama ialah cinta kasih. Hukum cinta inilah yang dinyatakan Yesus hari ini yakni mencintai bukan sekadar konsep teoretis belaka atau ungkapan yang dikeluarkan dari mulut saja tetapi sebuah aksi nyata. Aksi nyata dari cinta kasih itu adalah mengasihi sesama, musuh bahkan orang yang jahat sekalipun. Hal ini tentu bukan ciri khas orang Yahudi pada masa Yesus. Orang Yahudi menganggap bahwa ‘kalau kita dijahati maka, lakukan hal yang sama’ bukan membalas dengan kebaikan. Tentu hal itu bukanlah yang dimaksud Yesus. Pengorbanan dan cinta yang sejati ialah memberikan diri seutuhnya pada kehendak Allah dan berani berkorban bagi orang lain. Itulah yang telah dilakukan Yesus ketika Ia dihina, dicerca, dirajam, hingga disalibkan. Ia tidak mengeluh atau membalas dengan cara yang sama walaupun Ia Allah tetapi karena ketaatan kepada Bapa dan cinta-Nya kepada umat manusia. Ia tidak membalas hal yang sama pada mereka yang melakukan kejahatan itu tetapi Ia berdoa agar Bapa mengampuni dosa mereka.  Hal ini terlihat berbeda dengan apa yang dilakukan Ahab ketika Nabot tidak memberikan kebun anggurnya kepadanya padahal Ahab telah menawarkan kebun anggur yang lain bahkan akan membayar kebun anggurnya juga. Ahab yang menerima jawaban Nabot membuatnya malu. Ia tidak membalas dengan kejahatan tetapi Ia menangis walau pada akhirnya melalui isterinya, Izebel. Ahab mendapatkan kebun anggur itu dengan cara isterinya yang dapat dikatakan tidaklah baik.

Namun dibalik itu semua, Yesus telah menyatakan cinta yang besar. Ahab, Nabot dan Izebel adalah bagian dari perjalanan bangsa manusia dalam sejarah keselamatan di mana setiap kisahnya digenapi dalam dan oleh Yesus melalui hukum baru-Nya yakni Cinta kasih. Membalas dengan kasih bukan dengan kejahatan. Antonius dari Padua telah menyatakan cinta-Nya kepada Tuhan dan sesamanya melalui penyerahan dirinya secara total sebagai seorang Imam dan biarawan. Maka, mari belajar dari kisah hari ini, terutama Yesus sendiri di mana Ia tidak membalas dengan kejahatan ketika ia dijahati tetapi membalas dengan kebaikan; ditampar di pipi kanan maka, berikan pipi kiri. Ditampar dengan kejahatan maka, tamparlah dengan kasih.

Redaksi Lentera Jiwa

“Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat.5:39b)

Marilah berdoa:

Bapa, ajarlah aku untuk mencitai sesama dengan penuh ketulusan dan semangat pengorbanan Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini