Hari Biasa (H)
2Raj. 2:1,6-14; Mzm. 31:20,21,24; Mat. 6:1-6,16-18.
Kita hidup di zaman serba digital, yang memungkinkan segala sesuatu bahkan hidup beragama individu ataupun kelompok dapat menjadi penilaian publik. Dengan perkembangan media sosial, hidup beragama yang dipraktekan di suatu daerah, dapat dinilai orang dari daerah lain atau bahkan negara lain. Dalam kondisi ini, banyak gaya hidup beragama dilakukan secara spontan demi iman itu sendiri dan untuk menginspirasi orang lain.
Walaupun demikian, lebih banyak lagi tindakan yang sengaja direkayasa dan di upload ke media sosial demi mendapat pujian: “Woww Hidup orang ini sangat suci”. Orang mulai mengatasnamakan hidup beragama demi cuan dan ketenaran pribadi, hingga sulit membedakan antara tindakan asli untuk kemuliaan Allah dan rekayasa untuk kemuliaan pribadi.
Peristiwa ini bukanlah suatu fenomena baru, ini merupakan fenomena klasik yang ada sejak zaman Yesus. Dalam injil hari ini, Yesus berbicara tentang hidup beragama yang dimotivasi oleh ketenaran pribadi. Ia menunjukkan pentingnya motivasi tindakan, dimana sekalipun tindakan yang kita lakukan itu adalah benar tetapi jika dimotivasi oleh ketenaran pribadi dan cuan, maka tidak memperoleh pembenaran di hadapan Allah.
Yesus berkata: jadi apabila engkau memberi sedekah, jangan engkau mencanangkan hal itu seperti yang dilakukan orang munafik di rumah ibadat dan lorong-lorong supaya mereka dipuji orang. Ini dikatakan Yesus sebagai contoh untuk mengkritik cara hidup beragama dulu dan sekarang yang direkayasa demi pujian dan cuan. Contoh memberi sedekah merupakan suatu tindakan yang benar, tetapi motivasi dapat saja salah. Jika termotivasi oleh pujian dihadapan banyak orang, maka buah tindakan itu telah diperoleh yakni mendapat pujian khalayak. Sebaliknya jika tindakan dilakukan demi kerajaan Allah maka buahnya adalah pembenaran di hadapan Allah.
Demikian, sebagai orang Katolik, dalam hidup beragama, penting menyadari motivasi tindakan. Jika dilakukan demi ketenaran maka hasilnya diperoleh saat ini. Sebaliknya, jika dilakukan demi kerajaan surga, maka hasilnya diperoleh setelah hidup di dunia ini.
Setiap perbuatan baik yang kita lakukan harus dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh keselamatan setelah hidup di dunia ini. Dengan begitu kita tidak perlu memamerkan tindakan tersebut pada khalayak. Tanpa dilihat orang, Allah tetap melihat dan membalas yang tersembunyi itu.
(Fr. Alfredo Lois Ngutra)
“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat. 6:3).
Marilah Berdoa:
Ya Allah, berkatilah setiap perjalan hidup kami, agar dalam setiap tindakan yang kami lakukan bukan demi kemuliaan nama kami tetapi demi kemuliaan nama-Mu yang Kudus. Amin.











