Hari Biasa (H)
Am. 7:10-17; Mzm. 19:8,9,10,11; Mat. 9:1-8
Tindakan manusia didasarkan pada hati. Jika kita memikirkan hal yang baik dalam hati maka kita akan melakukan hal yang baik pula. Berbeda dengan hati yang jahat. Hati yang jahat dapat menipu orang lain. Orang yang berhati jahat akan melakukan hal licik untuk mencapai keinginannya dan bersifat tertutup. Sebaliknya, orang yang berhati baik bersifat terbuka.
Bacaan pertama memperlihatkan seorang wanita yang mempunyai hati jahat merayu seorang teruna dengan berkata baik, “Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau.” Wanita ini sesungguhnya mau berbuat jahat terhadap seorang tunera tersebut, dan untuk mencapai niatnya ia menipu seorang tunera itu dengan berkata-kata yang baik.
Kebanyakan manusia sekarang mengejar apa yang diinginkan dengan cara licik seperti wanita dalam bacaan pertama. Kita pun terkadang berlaku demikian. Kita sering tidak berani terbuka dan berusaha dengan hati jujur dan percaya kepada Tuhan. Hati yang jahat membuat kita berbelok dari hukum Tuhan, “padahal hukum Tuhan itu benar dan adil semuanya” seperti dalam ayat mazmur hari ini. Yesus tidak menyukai orang yang berhati jahat, dapat kita lihat dalam bacaan Injil di mana Yesus mengecam para ahli Taurat, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?” Yesus mau kita terbuka kepada-Nya dan memikirkan hal-hal yang baik dalam hati. Sebab, jika kita memikirkan hal yang jahat dalam hati, maka niscaya kita juga akan berlaku jahat; sebaliknya jika kita memikirkan hal yang baik dalam hati maka kita akan melakukan hal yang baik pula.
Dalam bacaan Injil, kita melihat bagaimana usaha orang-orang untuk menyembuhkan seorang lumpuh dengan membawanya kepada Yesus. Kata Yesus kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai Anak-Ku, dosamu sudah diampuni … Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.” Bacaan Injil mengajarkan kita untuk terbuka dan mengejar keinginan dengan hati yang baik. Berkat usaha dan hati yang baik serta iman mereka, seorang yang lumpuh itu pun sembuh.
Marilah kita membuka diri terhadap Tuhan dan mengubah sikap hati lama kita, hati yang jahat, ke hati yang baik. Hati yang baik akan menuntun kita pada perilaku yang baik, dan perilaku yang baik akan menyelamatkan.
(Fr. Jefrin Kristanto Wuda)
“Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” ( Mat. 9:2b)
Marilah berdoa:
Ya Yesus, utuslah Roh Kudus-Mu agar dari pada-Nya kami diajar untuk memiliki hati yang baik. Amin.











