“Lambang Kasih Allah”: Renungan, Jumat 24 Juni 2022

0
1805

Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus (P)

Yeh. 34:11-16; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Rm. 5:5b-11; Luk. 15:3-7.

Hati Yesus yang Mahakudus sering kali dilukiskan dengan sebuah gambar hati yang terbakar, hati itu dililit oleh mahkota duri, mempunyai luka tusukan yang ternganga dan berdarah. Hati itu berkilau memancarkan terang, serta sebuah salib ditempatkan di atas hati itu. Gambar Hati Yesus ini sering kali diletakkan di bagian dada Yesus, dengan kedua tangannya mengapit dan menunjuk hati tersebut. Gambaran tentang hati Yesus melambangkan pengorbanannya di atas kayu salib. Ia menggunakan mahkota duri dan memperoleh luka tusukan ketika disalib. Sementara itu, api dan terang ilahi melambangkan daya cinta kasih Allah yang begitu besar dan berkobar-kobar bagi manusia. Hati Yesus yang Mahakudus menjadi simbol cinta kasih Allah, yang terwujud nyata dalam misteri penyelamatan Yesus Kristus.

Hati Yesus yang Mahakudus merupakan lambang totalitas Allah dalam mencintai umat-Nya. Allah berbelas kasih dan menghimpun manusia menjadi satu kawanan. Walaupun manusia sering berbuat dosa, Allah tetap berbaik hati untuk merangkulnya, memberi kesempatan untuk bertobat, mendampingi dan juga memberikan jaminan keselamatan. Hal ini terungkap jelas dalam Injil.

Melalui perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk. 15: 3-7), Tuhan Yesus mengungkapkan betapa Ia mencintai setiap pribadi. Seorang gembala domba yang pergi mencari seekor domba yang hilang dari seratus ekor domba gembalaannya. Untuk sementara, sembilan puluh sembilan ekor domba akan ditinggalkan dan ia pergi mencari seekor yang hilang. Seperti gembala tersebut, Tuhan Yesus pun akan pergi mencari salah satu anggota kawanan-Nya yang tersesat. Ketika anggota yang tersesat itu ditemukan, maka akan ada sukacita besar dalam Kerajaan-Nya. Ketika manusia berdosa kemudian bertobat, maka akan ada sukacita besar dalam sorga.

Hal ini sungguh-sungguh menunjukkan betapa Allah mencintai umat-Nya. Allah melihat bahwa manusia telah jatuh dalam dosa. Manusia tersesat dalam keberdosaannya. Atas cinta-Nya yang besar, Allah tidak mau manusia tenggelam dalam dosa. Oleh karena itu, Tuhan Yesus Kristus turun ke dunia dan mengumpulkan kembali orang-orang yang berdosa. Penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib, sungguh mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, bahwa manusia bermegah dalam Allah oleh karena Kristus telah memberikan pendamaian bagi manusia.

Pertanyaan bagi manusia zaman ini, apakah kita yang tersesat mau untuk ditemukan? Ataukah kita sengaja lari dan bersembunyi agar tidak ditemukan?

(Fr. Theodorus Michael Palit)

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk. 15:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar hatiku semakin menyerupai hati-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini