“Keluar dari Zona Nyaman” : Renungan, Senin 27 Juni 2022

0
1107

Hari Biasa (H)

Am. 2: 6-10, 13-16; Mzm. 50:16bc-17, 18-19, 20-21, 22-23; Mat. 8: 18-22.

Keluarga merupakan istana kebahagiaan dan sukacita bagi semua orang. Keluarga adalah tempat dimana ada cinta kasih, hidup rukun dan kedamaian. Situasi semacam ini membuat orang yang jauh dari keluarganya akan merasa kesusahan dan bersedih. Seorang anak yang hendak melanjutkan pendidikan di luar kampung mesti berpisah dengan orang tuanya. Hal ini membuatnya merasa bersedih hati tapi juga sekaligus menuntut dia untuk keluar dari zona nyaman dan melangkah maju demi cita-citanya.

Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk berani mengambil keputusan meninggalkan zona nyaman yakni hidup bersama dengan keluarga. Yesus menuntut para murid-Nya untuk menjalani hidup baru yang penuh dengan resiko dan tantangan. Kehidupan yang demikian telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Memang pilihan hidup demikian terasa sangat berat dan menyedihkan. Namun dengan kesediaan para murid di masa lalu, begitu nyata bahwa cara hidup yang Yesus inginkan itu mampu kita jalani asalkan kita mau keluar dari zona nyaman kita masing-masing, serta fokus pada apa yang menjadi prioritas kita dalam menjalani hidup sebagai pengikut Yesus yang setia.

Adalah sebuah keputusan berat bagi kita semua dalam menjalani hidup sedemikian. Akan tetapi jikalau kita berani untuk mengambil satu keputusan yang sulit, maka kita harus bisa menerima dan siap menghadapi semua rintangan, cobaan dan beratnya hidup dunia ini. Keluarga bukanlah satu-satunya kenyamanan di dunia ini sampai kita mati. Akan tetapi ada saatnya kita akan berpisah dari mereka. Kita akan meninggalkan keluarga sehingga dengan cara hidup yang diminta Yesus, dapat membuat kita sadar dan keluar dari zona nyaman kita sekarang. Memang berat akan tetapi ketika kita berjalan bersama Tuhan serta apa yang kita lakukan itu baik dan benar pasti akan diberkati oleh Tuhan dengan kasih dan rahmat-Nya.

(Fr. Abraham Bairsady)

“Yesus berkata kepadanya: serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya” (Mat. 8:20)

Marilah Berdoa:

Ya, Tuhan kuatkanlah aku untuk selalu siap mengikuti jalan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini