“Iman Yang Menyelamatkan”: Renungan, Senin 16 Mei 2022

0
1807

Hari Biasa Pekan V Paskah (P)

Kis 14:5-18; Mzm 115:1-2.3-4.15-16; Yoh 14:21-26.

Kepercayaan terhadap seorang dengan yang lain sangatlah penting dalam sebuah hubungan; baik sebagai teman, pacar, dan lain-lain. Jika tidak, maka hubungan tersebut akan berakhir dengan tragis. Sama halnya dengan sepasang suami-istri ketika membangun relasi dalam keluarga. Jika dibangun dengan relasi saling pengertian, saling percaya, dan penuh cinta maka relasi itu akan berjalan dengan baik dan bahagia. Sebaliknya jika dibangun dengan kepala panas dan tidak saling menghargai maka pastilah akan berakhir dengan penderitaan.

Dalam bacaan pertama, sangat baik dikisahkan tentang Paulus dan Barnabas yang berpindah-pindah tempat untuk mewartakan nama Allah. Ketika berada di Listra mereka melakukan pewartaan. Peristiwa menarik yang terjadi bahwa seorang yang lumpuh sejak dilahirkan dapat disembuhkan. Kejadian itu membuat banyak orang yang menyaksikan menjadi takjub. Menarik bahwa kesembuhan itu terjadi karena kepercayaan yang dimiliki seorang yang lumpuh tersebut.

Dalam Injil Yohanes juga dikatakan dengan sangat baik “Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku padanya (Yoh. 14:21). Kata-kata ini hendak menegaskan bahwa yang baik akan selalu dibalas dengan yang baik, dan yang jahat akan selalu dibalas dengan yang jahat.

Dalam ilmu Sejarah ada yang namanya hukum sebab-akibat di mana segala sesuatu terjadi sesuai dengan yang diperbuat. Nah, bagaimanakah kita melihat hukum ini sebagai penunjang hidup kita. Apakah kita harus saling membenci untuk dibenci ataukah saling mengasihi untuk dikasihi. Sesungguhnya, sadar akan diri itu menjadi berguna jika berhadapan dengan situasi seperti ini.

Seperti peristiwa yang dialami seorang yang lumpuh, bahwa dengan iman serta kepercayaan yang penuh kepada Allah sehingga ia dapat sembuh dari penyakit yang diderita. Betapa besar kasih Allah bagi orang lumpuh itu. Sebab itu bertindaklah sesuai dengan apa yang terjadi bukan apa yang akan terjadi. Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah, sebab ajaran Dialah yang paling benar.

Marilah kita untuk selalu berbuat yang baik dengan saling membantu dan menolong, saling mengasihi dan mencintai, menghargai dan menghormati, memberi dan berbagi dengan begitu kita akan memperoleh yang setimpal dari Allah. Karena sesungguhnya kasih dari Allah terbuka bagi siapa saja yang mau meminta kepada-Nya. Juga melalui seorang lumpuh tersebut yang dengan keterbatasannya ia selalu mengandalkan Allah dalam setiap hidupnya sehingga ia boleh mengalami keselamatan.

(Fr. Ubaldus Melsasail)

“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”(Yoh. 14:23)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu mengandalkan Engkau dalam kelemahan kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini