“Kesetiaan dan Ketidaksetiaan”: Renungan, Rabu 13 April 2022

0
1451

HARI RABU DALAM PEKAN SUCI (U)

Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21-22,31,33-34; Mat. 26:14-25.

Injil hari ini mengisahkan seorang murid Yesus yang karena hal-hal duniawi, ia menjadi pengkhianat. Murid itu adalah Yudas Iskariot. Karena kepentingan diri sendiri sehingga ia nekat bernegosiasi dengan para imam-imam kepala yang baru ia kenal untuk menjual Yesus. Yesus mengetahui hal itu, namun Yesus hanya bersikap diam dan tidak melawan. Karena Ia datang untuk hal itu, yakni menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Ia datang untuk menyadarkan manusia-manusia yang lebih mementingkan diri sendiri, suka menang sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain.

Yudas Iskariot menjadi salah satu contoh manusia yang egois, tidak ingin diatur dan tidak ingin mendengarkan orang lain. Padahal Yesus memberi dia kuasa seorang murid yang mampu mewartakan kabar gembira kepada orang lain dan memberi semangat baru kepada mereka. Namun ia gunakan hal itu, untuk kepentingan sendiri dan tidak melaksanakan kuasa yang diberikan itu dengan semestinya. “Tuhan Allah telah memberikan kuasa untuk mewartakan kabar sukacita kepada mereka yang letih lesu”. Oleh sebab itu kita jangan takut untuk bertindak sesuai dengan yang diperintahkan-Nya. Sebab Ia selalu menyertai kita. Apabila ada orang yang meludahi dan menjelek-jelekan kita sehingga kita tidak berdaya, Tuhan Allah selalu ada untuk kita dan mengangkat kembali kita ke permukaan.

Untuk itu bertindaklah seperti murid-murid yang lain, yang tidak mementingkan ego mereka, selalu setia pada aturan, tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal duniawi dan tidak mudah percaya kepada orang baru, yang memberi senyuman manis. Karena Yesus senantiasa menyertai kita. Ia selalu ada untuk kita yang berpegang teguh pada ketetapan dan peraturan-Nya. Maka jauhilah semua pikiran buruk kita yang selalu mementingkan diri sendiri dan suka menang sendiri. Karena kita percaya dalam kebersamaan, kita dapat menemukan kedamaian, suka cita, ketenteraman dan kebahagiaan. Sebab apabila diantara kita yang berkekurangan, pasti ada teman yang membantu dan menopang sehingga kita dapat bangkit lagi dan mulai berjalan lagi secara tegak.

Hari ini kita diingatkan oleh Yesus akan dua hal penting. Dua hal itu adalah setia dan tidak setia (pengkhianat). Apakah kita tergolong dalam mereka yang setia? Atau sebaliknya? Kiranya kita sadar bahwa, semua yang ada pada kita saat ini adalah pemberian Tuhan sehingga kita jangan takut untuk bertindak seperti yang dikehendaki-Nya. Marilah kita berdoa supaya kita selalu setia dan selalu mementingkan kebersamaan daripada ego sendiri.

(Fr. Avelindus Babubun)

“Sesungguhnya, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” (Yes. 50:9a)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah aku untuk menjadi pengikut-Mu yang setia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini