“Menjadi Murah Hati Seperti Bapa” : Renungan, Senin 14 Maret 2022

0
1832

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)

Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38.

Ada seorang ibu yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu, karena menjual masker. Beliau mempunyai sebuah toko yang cukup besar. Di toko tersebut, ia menjual berbagai macam barang dengan harga mahal. Ia juga menjual masker yang harganya lumayan besar. Ia mengambil keuntungan karena banyak orang berbondong-bondong mencari masker. Namun, walaupun harga jualan ibu tersebut mahal, sikap ibu itu tetap bijak dan murah hati. Ia lebih mementingkan orang miskin yang butuh masker daripada orang kaya. Ia tidak mau dagangannya diborong oleh orang yang punya banyak uang, walaupun mereka menawarnya dengan harga sangat tinggi.

Bacaan Injil mengisahkan tentang Yesus yang memberikan pengajaran kepada murid-murid-Nya. Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya dengan berkata: “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Ajaran Yesus tentang murah hati dapat dimaknai sebagai seruan untuk mengimplementasikan Hukum Cinta Kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kemurahan hati tampak dalam perilaku sehari-hari, sebagai penegasan atas dimensi kemanusiaan kita. Lakukan yang baik dan hindari yang jahat, sebagai dasar moral yang dapat menjadi rujukan dalam kehidupan semua orang beriman.

Dalam kehidupan, persoalan adalah realita yang selalu ada. Janganlah heran bila setiap orang pernah berhadapan dengan persoalan. Ini merupakan suatu ujian yang harus dihadapi. Pertanyaannya, ketika menjumpai orang yang sedang susah, apakah kita bermurah hati? Apakah kita biasa membantu orang yang sedang susah atau sedang menghadapi persoalan? Apalagi kalau hidup kita sendiri sedang susah, apakah kita akan membantu orang lain? Kadang kala kita sulit untuk berbuat kasih, karena kita sendiri sedang mengalami kesusahan.

Berbuat baik bagi sesama, tentu bisa saja diperhadapkan dengan situasi-situasi sulit. Selain ada pergumulan dengan diri sendiri, bisa saja persoalan lahir dari pihak luar. Bisa saja perbuatan baik kita tidak diterima atau ditolak oleh orang lain. Walaupun demikian, kita tetap harus berbuat baik kepada siapapun.

Bermurah hati merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Dengan bermurah hati kita dapat membayar dosa-dosa kita, memperoleh pengampunan dan keselamatan. Marilah bermurah hati kepada semua orang, terlebih mereka yang sedang mengalami persoalan hidup, termasuk pula musuh atau orang yang pernah menyakiti kita.

(Fr. Marselinus Ora Wara)

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, rahmatilah kami dengan kebijaksanaan-Mu agar kami mampu berlaku murah hati terhadap sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini