“Memimpin Adalah Menderita” : Renungan, Rabu 16 Maret 2022

0
3621

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28.

“Leiden” dan “lijden” adalah dua kata dalam bahasa Belanda yang mirip penyebutannya tetapi beda artinya. “Leiden” berarti memimpin, sedangkan “lijden” berarti menderita. Ketika kedua kata ini dipadukan, “leiden is lijden”, maka arti yang diperoleh yakni memimpin adalah menderita. Artinya, menjadi seorang pemimpin berarti siap menderita demi mereka yang dipimpinnya.

Injil mengisahkan tentang ibu dari Yakobus dan Yohanes yang meminta agar kedua anaknya diberikan kedudukan. Ketika ibu itu mengemukakan permintaannya, Yesus malah memberikan nasihat: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20: 26b-27).

Yesus mau mengajarkan bahwa kualitas pemimpin yang ideal itu bukanlah pemimpin yang hanya mencari jabatan, pangkat, kedudukan dan kekuasaan. Seorang pemimpin adalah mereka yang siap dan mau menjadi pelayan dan hamba bagi masyarakatnya. Artinya, menjadi pemimpin itu butuh pengurbanan, siap menerima tugas yang berat, siap menderita dan siap kehilangan.  Seperti halnya Anak Manusia, Ia datang bukan untuk dilayani melainkan datang untuk melayani, bahkan rela memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan. Seorang pemimpin sejati harus memiliki jiwa kepemimpinan “leiden is lijden” dalam dirinya. Berani mengatakan bahwa “saya siap menderita demi mereka yang saya pimpin.”

Pengurbanan selalu dibutuhkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, entah sebagai pemimpin Gereja, pemimpin masyarakat, pemimpin dalam keluarga atau kelompok lainnya. Nabi Yeremia sendiri pernah bergumul dalam menjalankan tugasnya sebagai nabi. Ia yang berusaha menyampaikan firman Tuhan kepada bangsanya, malah terancam rencana jahat dari bangsanya sendiri. Kebaikannya dibalas dengan rencana jahat terhadapnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pemimpin sering kali bergumul. Kadang kala pemimpin berhadapan dengan situasi yang tidak nyaman, ataupun digoda oleh keinginan duniawi yang menggiurkan. Figur Yesus menjadi contoh pemimpin yang ideal bagi kita. Untuk melaksanakan kehendak Bapa dan karena cinta akan umat-Nya, Yesus menderita dan bahkan wafat di kayu salib. Ia mengesampingkan kekuasaan-Nya dan mengutamakan keselamatan umat-Nya.

Masa Prapaskah ini menjadi kesempatan indah untuk melihat kembali perjalanan hidup kita. Sudahkah kita menjadi seorang pemimpin yang ideal? Apakah kita punya sikap rela berkurban? Ataukah kita lebih cenderung mementingkan diri sendiri?

(Fr. Gerren FX Maweikere)

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”   (Mat. 20: 26b-27).

Marilah berdoa:

Tuhan, tanamkanlah sikap rela berkorban dalam diriku. Amin.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini