“Kehendak yang Baik”: Renungan, Jumat 11 Maret 2022

0
1846

Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)

Yeh. 18: 21-28; Mzm. 130: 1-2,3-4b,4c-6,7-8; Mat. 5: 20-26

Setiap orang tentunya berkehendak untuk melakukan segala sesuatu yang baginya adalah baik. Walaupun demikian, terkadang dengan kehendaknya tersebut setiap orang bisa terperangkap dalam hal kejahatan. Itu terjadi ketika dalam hidup ini, kita tidak bisa berkehendak sesuai dengan apa yang menjadi hukum Tuhan.

Bacaan Injil hari ini menegaskan betapa pentingnya melaksanakan kehendak dan hukum-Nya, karena hukum Tuhan menjadi sarana serta jalan bagi setiap orang untuk memperoleh keselamatan. Hukum Allah menghantarkan setiap orang pada kehendak baik, dan hukum tersebut menyatakan bahwa Allah sangat mencintai dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Hukum di sini adalah hukum cinta kasih.

Dalam Injil Tuhan bersabda hendaklah kita berdamai dengan saudara dan musuh-musuh kita. Hal itu ditegaskan Tuhan lewat perihal utang, di mana Allah bersabda bahwa seseorang yang melunasi utangnya akan keluar. Membayar utang adalah sebuah kewajiban, dan hal sama pula dengan mengasihi terhadap saudara dan musuh. Dan keluar di sini menggambarkan keselamatan setelah bertindak kasih.

Mengasihi musuh tentunya merupakan hal yang tidak mudah, namun Tuhan mengajarkan bahwa dengan berdamai dan mengasihi sesama, setiap orang akan tinggal di dalam-Nya, sebab Allah adalah kasih. Bacaan pertama pula mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan kehendak yang baik akan memperoleh keselamatan. Allah bersabda setiap orang yang berpegang pada ketetapan-Ku ia akan hidup dan tidak akan mati.

Saudara yang terkasih, di sini kita dapat melihat sungguh pentingnya hukum Tuhan bagi perjalanan hidup kita. Mengapa? Karena hukum yang ditunjukkan-Nya membantu kita agar segala kehendak yang dilakukan senantiasa terarah kepada-Nya. Peristiwa yang terjadi dalam kedua bacaan tersebut mau menyadarkan kita betapa pentingnya melaksanakan kehendak yang baik, karena kehendak yang baik merupakan tindakan kembali pada-Nya serta melakukan apa yang menjadi hukum-Nya.

Hal konkret yang dapat kita lakukan yakni jangan membunuh seperti yang disabdakan dalam Injil. Jangan membunuh mengatakan kepada kita bahwa kewajiban utama seorang pengikut Kristus adalah mengasihi sesama. Dan ketika kita telah melakukannya, secara langsung kita telah melakukan kehendak baik yang menjadi hukum Tuhan. Karena itu lakukanlah selalu apa yang menjadi hukum Tuhan. Hukum Tuhan adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan.

(Fr. Ambrosius Andy Rahawarin)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas” (Mat. 5:26).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah kami selalu dengan hukum-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini