“Kasih mengalahkan egoisme”: Renungan, Minggu 27 Maret 2022

0
2176

HARI MINGGU PRAPASKAH IV (U). E Syah PrefPrap.

Yos. 5:9a,10-12; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32. 

Kehidupan masyarakat kita dewasa ini ditandai banyak pesta. Alasannya ada bermacam-macam: pesta pembaptisan, komuni pertama, krisma, pernikahan, ulang tahun, wisuda, pelantikan, penganugerahan piagam, bahkan peristiwa kematianpun semakin menyerupai sebuah pesta. Hal yang lebih menegangkan lagi ialah untuk membiayai pesta-pesta tersebut orang rela menghabiskan dana dalam jumlah yang besar. Untuk itu ada yang nekat menjual lahan-kebun, bahkan ada juga yang berani berhutang untuk berpesta. Orang menyamakan hal bersyukur dengan mengadakan pesta. Kurang disadari bahwa kebiasaan berpesta tiada henti telah menjadi awal dari kejatuhan banyak kerajaan, masyarakat, keluarga dan pribadi manusia.

Hari ini Tuhan Yesus menunjukkan bahwa pesta itu adalah sesuatu yang istimewa, sesuatu yang luar biasa. Pesta lahir dari penemuan atau pengalaman akan sesuatu yang selama ini dirindukan dan tak terduga hal itu terjadi dan terpenuhi. Suatu pengalaman kebaikan yang mengejutkan, surprising. Anak sulung, dalam perumpamaan Tuhan Yesus, menyatakan kebenaran itu. Ia terkejut ketika memasuki rumah yang dipenuhi suasana pesta yang meriah. Sebuah pesta yang tiba-tiba meluap dari hati bapanya yang di luar dugaan dan pengertiannya. Selama bertahun-tahun ia dan teman-teman serta bapanya tidak pernah menyembelih seekor anak kambingpun untuk berpesta.

Hari itu, hal luar biasa dan tak terduga terjadi di rumah mereka. Ternyata, di rumah itu, ada seorang pendosa bertobat, seorang anak yang hilang ditemukan kembali, saudara pengkhianat menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan kebenaran. Itulah yang mendatangkan sukacita tak terkatakan di hati bapanya. Sukacita yang meluap dari hati yang penuh kasih dan kebaikan. Hari itu seisi rumah menyaksikan  kebesaran kebaikan dan kasih yang ada dalam hati bapa mereka. Kebaikan dan kasih yang hanya dapat tersingkap oleh kedatangan seorang pendosa yang bertobat. Kebaikan yang tidak bersyarat dan tidak menghitung jasa atau kesalahan, tetapi murni mengalir dari hati yang baik dan penuh kasih. Karena pengalaman itulah maka semua orang harus berpesta hari itu.

Penemuan akan kebaikan dan kasih bapa telah mengalahkan egoisme dalam diri kedua anaknya. Anak bungsu dengan pengalaman tersesat telah meyakini dan  menemukan kebaikan dan kebesaran kasih bapanya. Ia bertobat, kembali ke rumah dan menemukan ternyata keyakinannya  itu benar. Bapa lebih baik dari yang ia sangka selama ini. Kasih bapa yang sama harus menghadapi egoisme putra sulungnya yang marah dan tidak mau ikut dalam pesta sukacita itu. Selama ini ia tetap di rumah dan berbakti, namun bukan dengan hati tulus. Ia bermental orang upahan, bukan anak. Ia belum mengenal dan menyadari kasih bapa yang menjiwai kebersamaan dalam keluarga mereka. Seperti adiknya ia masih harus menemukan kasih yang ada dalam hati bapanya.

Hanya belajar dari kasih bapa ia juga akan terlepas dari kemarahan, dendam dan cemburu, untuk belajar mengasih tanpa syarat seperti bapanya. Segala milikku adalah milikmu juga, namun hari ini kita pantas bergembira dan berpesta karena adikmu ditemukan kembali. Tidak ada sukacita yang lebih besar di surga dari pada sukacita karena seorang berdosa bertobat.

Ternyata pesta itu bukan suatu kebiasaan tetapi hal yang luar biasa. Manusia biasa berpesta untuk memenuhi keinginan para pencandu pesta tetapi orang beriman berpesta untuk merayakan kemenangan seorang anak manusia atas dosa-dosanya, dan penemuannya akan kasih bapa yang tak berhingga.  Hati siapa yang tidak bersukacita oleh peristiwa yang luar biasa itu. Pesta di rumah bapa dengan  anak bungsu dan anak sulungnya menjadi pantulan sukacita yang terjadi di rumah Bapa di Surga. Tidak ada yang harus cemburu atas sukacita karena saudaranya yang berdosa sekarang bertobat. Kasih bapa mengalahkan egoisme anak-anaknya. Inilah inti sebuah pesta orang-orang beriman.

(RD. Julius Salettia).

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk. 15:32).

Marilah berdoa:

Bapa di Surga, karuniakanlah kepada kami rahmat untuk senantiasa menyadari belas kasih-Mu yang besar itu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini